Mari Membuat Cerita

Go down

Mari Membuat Cerita

Post by AnovA on Thu 13 Dec 2012, 16:21

Mari Membuat Cerita
~AnOvA~

Ane mau menyumbangkan beberapa ilmu yang ane dapat saat kuliah. Tepatnya pada mata kuliah menulis kreatif yang ane dapat di dua semester awal. Beberapa hal ini dapat menjadi panduan dalam menulis cerita fiksi untuk suhu-suhu yang baru mulai menulis, maupun yang ingin membuat ceritanya lebih sip lagi. Selain hal-hal primer tersebut, ane tambahkan beberapa hal yang menjadi perhatian ane saat memposisikan diri sebagai pembaca cerita di sini.

Artikel disini akan ditulis secara berkala, karena ane masih harus bongkar gudang mencari dan mensarikan dari catatan kuliah ane

Indeks
Spoiler:

DASAR PENULISAN
Ejaan dan Tata Bahasa
Paragraf
Tanda Baca

Perspektif
Dialog


GAYA PENCERITAAN
Karakter
Cerita
Detail
Finishing

BONUS (Khusus penulis Cerita Dewasa)
Erotica vs Pornografi
Profanity
Kesimpulan


Terakhir diubah oleh AnovA tanggal Mon 17 Dec 2012, 12:22, total 3 kali diubah

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Awas AnovA Galak!!
avatar
AnovA
Satpol Keple

Jumlah posting : 89
Reputation : 0
Join date : 11.12.12
Lokasi : Dibalik pelukan wanita lain

Kembali Ke Atas Go down

Dasar Penulisan (Basic Skill), Part 1.

Post by AnovA on Fri 14 Dec 2012, 11:40

DASAR PENULISAN


Ejaan dan Tata Bahasa
Salah satu hal penting supaya sebuah cerita enak dibaca adalah Ejaan dan Tata Bahasa. Sempatkan sejenak untuk membaca karya anda sebelum dipublish. Periksa ejaan, dan sebisa mungkin hindari menggunakan singkatan. Untuk masalah tata bahasa, sebenarnya dalam praktek penulisan sebuah fiksi, tidak perlu penggunaan tata bahasa yang baik dan benar. But before you break the rules, it's better to know the rules first. Sangat tidak enak ketika membaca sebuah cerita yang penuh dengan kesalahan eja dan tata bahasa yang amburadul.

Paragraf
Gunakanlah paragraf pada tempatnya. Dalam penulisan fiksi, penggunaan paragraf adalah sebuah keharusan, bukan sebuah pilihan. Akan sangat sulit sekali membaca sebuah fiksi tanpa adanya paragraf. Paragraf mengurangi kebingungan dalam proses pembacaan. Pisahkan setiap dialog dengan paragraf. Hal tersebut akan membuat pembaca lebih nyaman dan tidak kebingungan dalam menangkap cerita anda.

Tanda Baca
Hal penting lain yang perlu diperhatikan pada saat menuliskan sebuah cerita adalah penggunaan tanda baca. Dalam praktek penulisan fiksi, tanda baca dapat "menghidupkan" suasana karya anda. Tanda baca mengalirkan kata ke dalam pikiran pembaca. Penggunaan terlalu banyak tanda baca pun akan membingungkan.
Berikut beberapa contoh penggunaan tanda baca:

Koma [,]
Ketika SD, guru Bahasa Indonesia saya mengajarkan bahwa koma digunakan dalam kalimat ketika diperlukan jeda untuk mengambil nafas dalam membaca kalimat tersebut. Hal ini tidak salah, namun pada umumnya koma digunakan untuk memisahkan kalimat atau items dalam kalimat.
Contoh:

Ibu membeli gula, kopi, dan susu.
Pardi mencintai Ega, tapi dia sudah berpacaran dengan Ana.


Titik [.]
Titik adalah bagian paling umum dari tanda baca yang akan anda ketik. Titik diletakkan di akhir kalimat.
Bagaimana untuk mengakhiri kalimat? Seperti yang Anda tahu, titik digunakan di akhir kalimat, diikuti dengan spasi jika anda akan melanjutkannya dengan kalimat kedua. mohon diingat bahwa huruf pertama dalam kalimat berikut selalu menggunakan huruf kapital. Cukup mudah kan? Berikut adalah beberapa contoh:

Ini adalah sebuah kalimat.
Ada titik di akhir kalimat ini, juga.


Titik digunakan juga dalam singkatan. Contohnya :

Dr. Warsono
Prof. Suwito


Catatan: Akronim, singkatan yang diucapkan sebagai kata-kata, tidak menggunakan titik. Berikut beberapa contoh: Kopassus (Komando Pasukan Khusus), ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Jika anda tidak yakin suatu kata merupakan akronim atau singkatan, gunakan google.

Ketika berhadapan dengan tanda kurung, tanda baca tergantung pada bagaimana tanda kurung ditempatkan dalam kalimat. Jika mereka di tengah kalimat (seperti ini), maka tanda baca ditempatkan di luar kurung (bahkan di akhir). Jika seluruh kalimat berada dalam tanda kurung, tempatkan tanda baca dalam tanda kurung. Berikut adalah beberapa contoh:

Ruangan itu sangat kotor (Mungkin karena tidak pernah digunakan).
(Saya tidak terlalu tertarik pada pelanggaran hak cipta.)



Tanda Tanya [?]
Tanda Tanya digunakan untuk mengakhiri kalimat tanya. Contoh:

Mau kemana kamu?

Ketika kalimat itu diakhiri dengan singkatan, titik digunakan sebelum tanda tanya. Contoh:

Kapan kamu mau berangkat ke Washington D.C.?

Penggunaan yang lebih rumit adalah ketika digunakan dalam kalimat berikut.

Apakah Bung Karno pernah berkata "Merdeka atau mati"?

Tanda tanya digunakan di luar tanda kutip karena "Merdeka atau mati" adalah kutipan, bukan pertanyaan. Tetapi kalau dalam kalimat:

Bung Karno menanyakan padaku, "Merdeka atau mati?"

Tanda kutip digunakan untuk menutup kalimat karena itu adalah pertanyaan, dan juga dialog dari orang lain.

Tanda seru [!]
Tanda seru digunakan untuk mengakhiri kalimat perintah.

Singkirkan tanganmu!

Kesalahan yang sering dilakukan adalah menggunakan lebih dari satu tanda seru seperti :

Diam kamu!!!

cukup gunakan satu tanda seru!

Elipsis [...]
Elipsis adalah salah satu tanda baca yang sering disalahgunakan. Elipsis terdiri dari tiga titik ("..."). Tidak pernah kurang dan tidak juga lebih.
Elipsis digunakan untuk menandakan pemikiran yang belum lengkap, ragu atau tidak mampu dilanjutkan. Elipsis tidak pernah digunakan untuk memberi jeda. Gunakan koma untuk memberi jeda. Secara tata bahasa, elipsis tidak pernah digunakan untuk mengakhiri kalimat. Namun dalam dialog dalam fiksi terkadang menggunakan elipsis dilanjutkan dengan titik untuk mengakhiri kalimat.
contoh:

Andi menamparnya, "Kemana dia pergi?"
"Aku tidak tahu ...." jawab Asti pelan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Awas AnovA Galak!!
avatar
AnovA
Satpol Keple

Jumlah posting : 89
Reputation : 0
Join date : 11.12.12
Lokasi : Dibalik pelukan wanita lain

Kembali Ke Atas Go down

Dasar Penulisan (Basic Skill), Part 2.

Post by AnovA on Fri 14 Dec 2012, 23:43

Sudut Pandang
Sudut Pandang (SP) merupakan salah satu unsur fiksi yang dapat digolongkan sebagai sarana cerita. Meski begitu unsur ini tidak bisa dianggap remeh.Apa yang Anda lihat dan rasakan ketika menyaksikan sebuah mobil menabrak sepeda motor, tentu akan berbeda dengan yang dilihat dan dirasa oleh si pengendara mobil yang menabrak, atau si pengendara sepeda motor yang menjadi korban tabrakan. Akibat dari peristiwa itu pun akan berbeda bagi anda, si pengendara mobil, dan si pengendara motor. Sebab itu, pemilihan SP tidak saja akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempangaruhi alur cerita.

SP sendiri memiliki pengertian sebagai cara pengarang menempatkan dirinya di dalam cerita. Dengan demikian, SP pada hakikatnya merupakan teknik atau siasat yang sengaja dipilih penulis untuk menyampaikan gagasan dan ceritanya, melalui kaca mata tokoh—atau tokoh-tokoh—dalam ceritanya.

Ragam Sudut Pandang
Friedman (dalam Stevick, 1967:118) mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya bisa digunakan untuk membedakan SP. Salah satu pertanyaan itu adalah siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga, atau pertama)? Pembedaan SP yang akan saya kemukakan berikut berdasarkan atas pertanyaan tersebut. Secara garis besar ada dua macam SP, yakni, SP orang pertama dan SP orang ketiga. Hanya kemudian dari keduanya terbentuk variasi-variasai yang memiliki konsekuensi berbeda-beda.

1. SP Orang Pertama Tunggal

Pengarang dalam sudut pandang ini menempatkan dirinya sebagai pelaku sekaligus narator dalam ceritanya. Menggunakan kata ganti “Aku” atau “Saya”. Namun begitu, SP ini bisa dibedakan berdasarkan kedudukan “Aku” di dalam cerita itu. Apakah dia sebagai pelaku utama cerita? atau hanya sebagai pelaku tambahan yang menuturkan kisah tokoh lainnya?

a. “Aku” tokoh utama
Pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “Aku” inilah pengarang mengisahkan kesadaran dirinya sendiri (self consciousness); mengisahkan peristiwa atau tindakan. Pembaca akan menerima cerita sesuai dengan yang diketahui, didengar, dialami, dan dirasakan tokoh “Aku”. Tokoh “Aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan.

Apabila peristiwa-peristiwa di dalam cerita anda terbangun akibat adanya konflik internal (konflik batin) akibat dari pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, atau harapan dari tokoh cerita, SP ini merupakan pilihan yang tepat. Karena anda akan leluasa mengungkapkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh tokoh cerita anda.

Sambil bermain aku melirik topi lakenku. Kulihat sebuah kursi roda. Duduk di kursi roda itu, seorang tua yang wajahnya tak bisa kulihat dengan jelas karena memakai topi laken seperti aku. Rambutnya gondrong dan sudah memutih seperti diriku, namun ketuaannya bisa kulihat dari tangannya yang begitu kurus dan kulitnya yang sangat keriput. Tangan itulah yang terangkat dan tiba-tiba menggenggam sebuah gitar listrik yang sangat indah.
(Cerpen Ritchie Blackmore karya Seno Gumira Ajidarma dalam buku Kematian Donny Osmond)


Perhatikan kata: kulihat pada penggalan cerita di atas. Tokoh “Aku” hanya menyampaikan apa yang terlihat oleh matanya. Begitulah, jika anda memilih SP ini, anda tidak mungkin mengungkapkan perasaan atau pikiran tokoh-tokoh lain, selain tokoh “Aku”.

Kebanyakan penulis yang menggunakan SP ini, seringkali terlalu asyik menceritakan (tell) keseluruhan cerita, tanpa berusaha menunjukkan (show) atau memperagakannya. Akibatnya cerita menjadi kurang dramatis. Bahkan bukan tidak mungkin, apabila anda memilih SP ini, anda akan kesulita memperkenalkan tokoh, apakah seorang perempuan atau lelaki. Seno Gumira Ajidarma cukup piawai melukiskan tokoh “Aku” lewat adegan dalam penggalan cerita di atas.

Namun, karena cerita dituturkan oleh tokoh “Aku”, anda harus menulis dengan bahasa tokoh “Aku”, sesuai dengan karakter yang telah anda tetapkan. Apabila tokoh anda lebih tua atau lebih muda dari usia anda, akan mempengaruhi bahasa yang bisa anda gunakan. Sebab itu, mengenali dengan baik karakter tokoh anda menjadi sebuah keharusan.

b. “Aku” tokoh tambahan
Pengarang menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam cerita, hanya saja kedudukannya bukan sebagai tokoh utama. Keberadaan “Aku” di dalam cerita hanya sebagai saksi. Dengan demikian, tokoh “Aku” bukanlah pusat pengisahan. Dia hanya bertindak sebagai narator yang menceritakan kisah atau peristiwa yang dialami tokoh lainnya yang menjadi tokoh utama.

Tetangga saya orangnya terkenal baik. Suka menolong orang. Selalu memaafkan. Apa saja yang kita lakukan terhadapnya, ia dapat mengerti dengan hati yang lapang, bijaksana, dan jiwa yang besar. Setiap kali ia mengambil putusan, saya selalu tercengang karena ia dapat melakukan itu dengan kepala yang kering, artinya sama sekali tidak ketetesan emosi. Tidak hanya terhadap persoalan yang menyangkut orang lain, untuk setiap persoalan pribadinya pun ia selalu bertindak sabar dan adil. Banyak orang menganggapnya sebagai orang yang berhati agung.
(Cerpen Pencuri karya Putu Wijaya dalam buku Protes)


Dalam penggalan cerita karya Putu Wijaya di atas, terlihat tokoh “Saya” mengomentari atau memberikan penilaian pada tokoh utama—tetangganya. SP ini memang mirip dengan SP orang ketiga. Hanya saja narator ikut terlibat di dalam cerita. Sebab itu dia menjadi sangat terbatas, tidak bersifat mahatahu. Sebagai narator, tokoh “Saya” hanya mungkin mengomentari apa yang dilihat dan didengar saja. Narator melalui tokoh “Aku” bisa saja mengungkapkan apa yang dirasakan atau dipikirkan tokoh “Dia”, namun komentar itu hanya berupa dugaan dari tokoh “Aku”. Atau kemungkinan berdasarkan apa yang diamati dari gerak tubuh tokoh “Dia” atau karakter dari tokoh “Dia” yang memang telah diketahui secara umum.

2. SP Orang Pertama Jamak

Bentuk SP ini sesungguhnya hampir sama dengan SP orang pertama tunggal. Hanya saja menggunakan kata ganti orang pertama jamak, “Kami”. Pengarang dalam sudut pandang ini menjadi seseorang dalam cerita yang bicara mewakili beberapa orang atau sekelompok orang. Perhatikan petikan di bawah ini.

Kami bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran continental yang brengsek. Kami sebut restoran ini brengsek, sebab kami diwajibkan memasak sambil menangis. Bayangkan! Kami mengaduk kuah buntut sambil menangis. Kami memasak nasi goreng, merebus aneka pasta, membuat adonan pizza, memotong daging ayam, mengupas kentang, semua itu kami lakukan sambil menangis. Begitulah. Setiap hari selalu ada saja airmata yang meluncur dari sepasang mata kami; mengalir membasahi pipi, dagu, dan menetes ke dalam setiap masakan kami.
(Cerpen Resep Airmata karya Noor H. Dee dalam buku Sepasang Mata untuk Cinta yang Buta)


Dalam SP ini, pembaca mengikuti semua gerak dan tindakan satu orang atau beberapa orang melalui kaca mata sebuah kelompok. Narator dalam cerita yang berbicara mewakili kelompoknya (“Kami”), tidak pernah mengungkapkan jati dirinya kepada pembaca, seakan-akan dia tidak mempunyai jati diri, selain jati diri kelompoknya. SP orang pertama jamak ini bisa anda pilih, jika anda ingin membuat cerita dengan latar sebuah komunitas kecil seperti sekolah, masjid, keluarga, restoran, dll. Anda bisa memusatkan penceritaan pada seorang tokoh yang memiliki masalah dengan lingkungan sekitarnya. Jika ini yang dipilih, maka “Kami” hanya menjadi tokoh tambahan yang menuturkan konflik yang dialami oleh tokoh utama. Atau justru sekelompok orang itu (“Kami”) yang memiliki masalah dengan lingkungannya, seperti yang bisa kita lihat pada cerpen Resep Airmata, karya Nurhadiansyah. Dengan demikian, “Kami” di dalam cerita sekaligus menjadi tokoh utama, sebagai pusat penceritaan.

3. SP Orang Kedua

Pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang sedang berbicara kepada orang lain, menggambarkan apa-apa yang dilakukan oleh orang tersebut. SP ini menggunakan kata ganti orang kedua, “Kau”, “Kamu” atau “Anda” yang menjadi pusat pengisahan dalam cerita.

Kedua lututmu terasa lemas saat kau bersandar pada pemadam api yang baru saja dicat merah, putih, dan biru. Nalurimu ingin berlari mendekati mereka, berteriak, aku juga! Aku juga! Sekarang kau bisa merasakan penyangkalan yang sudah lama sekali kaulakukan; kau ingin berlari dan mengatakan kepadanya tentang kehidupanmu selama tiga puluh satu tahun tanpa dirinya, dan membuatnya berteriak dengan kepastian tanpa dosa: Oh, kau sungguh putri yang cantik!
(Cerpen Main Street Morning karya Natalie M. Patesch)


Pada SP ini pembaca seolah-olah diperlakukan sebagai pelaku utama. Pembaca akan merasa seperti seseorang yang tengah membaca kiriman surat dari kerabat atau orang terdekatnya. Sehingga membuat pembaca menjadi merasa dekat dengan cerita, karena seolah-oleh dialah pelaku utama dalam cerita itu.

4. SP Orang Ketiga Tunggal

Pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang berada di luar cerita, atau tidak terlibat dalam cerita. Dalam SP ini, narator menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut namanya, atau kata gantinya; “Dia” atau “Ia”

SP orang ketiga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap cerita. Pada satu pihak, pengarang atau narator dapat bebas mengungkapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh “Dia”. Di pihak lain, pengarang atau narator tidak dapat leluasa menguangkapkan segala hal yang berhubungan dengan tokoh “Dia”, atau dengan kata lain hanya bertindak sebagai pengamat.

a. SP Orang Ketiga Mahatahu
SP ini sering juga disebut SP ‘mata tuhan’. Sebab dia berlaku seperti ‘tuhan’ terhadap tokoh-tokoh di dalam ceritanya. Pengarang atau narator mengetahui segala hal tentang tokoh-tokohnya, peristiwa, dan tindakan, termasuk motif yang melatarbelakanginya. Dia bebas berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Bahkan, pengarang bebas mengungkapkan apa yang ada dipikiran serta perasaan tokoh-tokohnya.

“Ya ampun, luar biasa mimpiku ini,” kata Tomas sambil menghela napas, kedua tangannya memegang setir, memikirkan roket, wanita, wiski yang aromanya menyengat, rek kereta api di virginia, dan pesta tersebut.
Sungguh visi yang aneh, pikir makhluk Mars itu, sambil bergegas membayangkan festival, kanal, perahu, para wanita dengan mata berkilauan bagai emas, dan aneka lagu.
(Night Meeting karya Ray Bradbury)


Dalam SP ini, pengarang bebas memasuki pikiran dua atau tiga orang dan menunjukkannya pada pembaca. Seperti contoh di atas, pengarang seakan tahu apa yang ada di pikiran Tomas, pada saat yang bersamaan dia juga mengetahui apa yang ada di pikiran makhluk Mars.

b. SP Orang Ketiga Terbatas
Dalam SP ini, pengarang juga bisa melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikirkan dan dirasakan oleh tokoh ceritanya. Namun hanya terbatas pada satu tokoh, atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas (Stanton, 1965:26). Pengarang tidak leluasa berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Melainkan terikat hanya pada satu atau dua tokoh saja.

Selalu ada cita-cita di dalam benaknya, untuk mabuk dan menyeret kaki di tengah malam, menyusuri Jalan Braga menuju penginapan. Ia akan menikmati bagaimana lampu-lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang yang bimbang; garis-garis bangunan pertokoan yang—yang berderet tak putus—acap kali menghilang dari pandangan; dan trotoar pun terasa bergelombang seperti sisa ombak yang menepi ke pantai.
(Cerpen Lagu Malam Braga karya Kurnia Effendi dalam buku Senapan Cinta)


Dari contoh di atas, tampak Kurnia Effendi sebagai pengarang masuk ke dalam benak tokoh “Ia” dan menyampaikan isi kepala tokohnya itu kepada pembaca. Hal ini mirip SP orang ketiga mahatahu. Hanya saja terpadas pada satu orang tokoh saja yang merupakan tokoh utama.

c. SP Orang Ketiga Objektif
Pengarang atau narator dalam SP ini bisa melukiskan semua tindakan tokoh-tokohnya, namun dia tak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan serta dirasakan oleh tokoh-tokohnya. Dia hanya boleh menduga apa yang dipikirkan, atau dirasakan oleh tokoh ceritanya.

Si lelaki tua bangkit dari kursinya, perlahan-lahan menghitung tatakan gelas, mengeluarkan pundi-pundi kulit dari kantungnya dan membayar minumannya dan meninggalkan persenan setengah peseta
Si pelayan mengikutinya dengan mata ketika si lelaki tua keluar ke jalan, seorang lelaki yang sangat tua yang berjalan terhuyung-huyung tetapi tetap dengan penuh harga diri.
“Kenapa tak kau biarkan saja dia minum sampai puas?” tanya si pelayan yang tidak tergesa-gesa. Mereka berdua sedang menurunkan semua tirai. “Hari belum lagi jam setengah dua.”
“Aku ingin cepat pulang dan tidur.”
( Cerpen Tempat yang Bersih dan Terang karya Ernest Hemingway dalam buku Salju Kilimanjaro)


Seperti ternampak pada penggalan cerita karya Ernest Hemingway di atas, narator hanya berlaku seperti wartawan yang tengah melaporkan sebuah peristiwa. Posisinya sejajar dengan pembaca. SP ini menuntut ketelitian dalam mencatat dan mendeskripsikan peristiwa, tindakan, latar, samapi ke detil-detil yang terkecil. Narator tak ubahnya sebuah kamera yang merekam dan mengabadikan sebuah objek.

5. SP Orang Ketiga Jamak

Pengarang menjadi narator yang menuturkan cerita berdasarkan persepsi atau kaca mata kolektif. Narator akan menyebut tokoh-tokohnya dengan menggunakan kata ganti orang ketiga jamak; “Mereka”.

Pada suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan dengan Don Vigiliani dan dengan beberapa anak lelaki dari kelompok pemuda, dalam perjalanan pulang, mereka melihat ibu mereka di sebuah kafe di pinggir kota. Dia sedang duduk di dalam kafe itu; mereka melihatnya melalui sebuah jendela dan seorang pria duduk bersamanya. Ibu mereka meletakkan syal tartarnya di atas meja…
(Cerpen Mother karya Natalia Ginzburg)


Pada hakikatnya, SP ini mirip dengan SP orang pertama jamak. Pembaca menerima semua gerak dan tindakan satu orang atau beberapa orang melalui kaca mata sebuah kelompok. Perbedaannya ada pada posisi narator yang berada di luar cerita, tidak terlibat dalam cerita yang dituturkannya melalui kaca mata tokoh “Mereka”.

6. SP Campuran

Sebuah novel mungkin saja menggunakan lebih dari satu ragam SP. Bahkan, belakangan ini, SP campuran tak hanya digunakan dalam novel saja, tetapi juga digunakan di dalam cerpen. Pengarang menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan SP yang berbeda-beda menggunakan “Aku”, “Kamu”, “Kami”, “Mereka”, atau “Dia”.

Seketika mata Masayu membuka. Lewat pukul sembilan malam ketika lubang pernafasaannya membaui aroma dari daging yang terbakar. Matanya membelalak menyaksikan api merambat cepat. Dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.
***
Pernahkah dalam hidupmu, kau merasakan kebencian yang teramat hebat? Sehingga apapun yang ada di kepalamu selalu tentang bagaiman cara melampiaskannya?
Kami hanya dua gadis lugu yang tak pernah tahu arti membenci. Sebelum perceraian Mami dan Papi menyadarakan kami akan arti memiliki. Kami baru menyadari kalau selama ini kami tak pernah benar-benar memiliki Mami. Mungkin juga begitu yang dirasakan oleh Papi. Sehingga dia lebih memilih berpisah dengan Mami, dari pada hidup bersama tetapi tidak merasa memiliki.
Namanya Melly. Tubuhnya tak lebih dari dua puluh centi. Bulunya kuning pudar dimakan usia. Hidungnya bulat berwarna cokelat tua. Moncongnya putih gading. Kau pasti menduga kalau Melly seekor binatang piaraan? Hampir tepat. Dia memang menyerupai binatang. Tapi bukan binatang. Karena dia tidak bernyawa. Dia hanya sebuah boneka. Boneka beruang kepunyaan Mami. Tapi meski hanya sebuah boneka beruang, di mata Mami, Melly lebih manusia dari manusia. Sehingga ia harus diperlakukan dengan istimewa. Sampai-sampai Mami lupa kalau dia memiliki dua orang putri berusia 13 dan 10 tahun. Dua orang putri bernama Bening dan Rani—kami—yang lebih butuh perlakuan istimewa darinya.
(Cerpen Melly karya Denny Prabowo)


Pada paragraf pertama digunakan sudut pandang “Dia” tokoh Masayu. Pengarang berada di luar cerita. Namun pada paragraf berikutnya pengarang menempatkan dirinya sebagai “Kami” yang berbicara pada “Kau”. Itu berarti, pengarang menjadi pelaku sekaligus narator di dalam ceritanya. Sebagai narator, tokoh “Kami” bertutur tentang tokoh lainnya bernama Melly.

Dalam penggunaan SP campuran, dimungkinkan terjadi pergantian pusat penceritaan dari seorang tokoh ke tokoh lainnya. Dengan begitu, pembaca akan memperoleh pandangan terhadap suatu peristiwa atau masalah dari beberapa tokoh.


Dialog

Dialog tidak dapat dilepaaskan dalam dunia tulis menulis dalam format apapun. Dialog sangat penting untuk berbagai tujuan dalam penceritaan, sehingga penulis tidak bisa sembarangan menjadikan dialog sebagai obrolan yang nggak jelas. Dialog yang baik menjelaskan karakter, membuat cerita berkembang maju, menciptakan konfrontasi dan memberikan informasi.

Dialog dalam tulisan memang bukan perkara gampang. Ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan, misalnya kata kerja untuk membuat kutipan itu, susunan kalimatnya lalu format dan tanda bacanya.

1. Kata Kerja

Pertama soal kata kerja yang kita pakai. Bosen juga ya kalau kita pakai ‘kata’ atau ‘berkata’ tiap kali kita mengutip percakapan.
contoh:

“Hei, apa kabar?” Arya berkata.
“Eng, nggak begitu baik,” kata Sinta.


Supaya nggak garing, coba variasikan dengan kata-kata lain. Banyak kata kerja yang bisa dipakai untuk mengutip, ada lebih dari empat puluh kata buat menggantikan kata ‘berkata’ ini, mulai dari: berujar, menyahut, berteriak, menjerit, berbisik, sampai mendesah, bertanya, menjawab, mengomel, menukas.
contoh:

“Hei, apa kabar?” tanya Arya.
“Eng, nggak begitu baik,” Rika mendesah.
“Ada masalah apa, Rik?”
“Nggak, nggak penting sih,” Rika mengelak seraya beranjak.

Dialog tidak harus diikuti dengan kata kerja mengutip misalnya ‘berkata’ atau ‘berujar’. Langsung diikuti dengan kalimat yang menunjukkan tindakan si karakter pun bisa. Bila karakter dan alur percakapannya sudah jelas, kita bisa membuatnya seperti ini.

“Aku pergi dulu.” Rika bangkit dan menyambar jaketnya.
“Eh, mau ke mana?” Arya tidak jadi meminum kopinya.


Dalam dua kalimat di atas penulis tidak mencantumkan kata kerja mengutip untuk menunjukkan siapa yang berbicara. Tapi kalimat berikutnya sudah cukup menjelaskan.

2. Susunan Kalimat

Nah sekarang kita bahas susunan kalimatnya. Ada berbagai kombinasi yang bisa kita pakai.

a. Dialog + kalimat
“Yeah, aku memang udah bosen pacaran sama kamu,” ungkap Prita akhirnya.
“Bosen? Nggak bisa cari alasan yang lebih bermutu?” Rinto menyahut ketus.


b. Kalimat + dialog
Dia menjerit keras, “Arrrrgkkkhhh, tolong.”
Sambil sesenggukan ia berkata terbata-bata, “Say … saya nggak bersalah, Pak.”


c. Kalimat + dialog + kalimat
Aku mengomel, “Emangnya kalau elo cowok gue, terus elo bisa ngatur hidp gue gitu? Bokap gue aja nggak segitunya,” lalu kumatikan HP-ku dengan kesal.

d. Dialog + kalimat + dialog
“Ini rahasia besar, Son,” bisikku, “janji nggak ngomong sama siapa pun?”

e. Dialog saja
Digunakan untuk dialog yang cukup panjang oleh dua orang. Bila karakternya lebih dari dua, pola seperti ini akan membingungkan.

“Kamu dengar nggak?” tanyaku
“Dengar apa?” ia balas bertanya.
“Gosip itu.”
“Gosip apa?”
“Gosipnya si kucing meong ama kucing garong.”
“Emang ada kucing? Kucing siapa? Kucing apa?”
“Iiiihhh, susah banget ngomong ama kamu.”


3. Format dan Tanda Baca

a. Format
Intinya alur percakapan harus dibuat sesimpel mungkin hingga tidak membingungkan. Siapa mengatakan apa harus jelas. Itulah mengapa dialog sebaiknya berdiri sendiri. Bila diikuti oleh dialog lain, maka sebaiknya masukkan dialog berikutnya dalam paragraf baru. Misalnya:

“Hai, aku Nina.”
“Aku Frans.”
“Kamu sekolah di sini juga?” aku mencari-cari bahan pembicaraan.
"Kayaknya iya sih.” Ia melihat badge di lengan bajunya. Haha, dia lucu
.

Bila kalimat itu tidak dipecah dalam paragraf-paragraf baru akibatnya nggak bakal enak dibaca, kayak gini:

“Hai, aku Nina.” “Aku Frans.” “Kamu sekolah di sini juga?” aku mencari-cari bahan pembicaraan. “Kayaknya iya sih.” Ia melihat badge di lengannya. Haha, dia lucu.

b. Tanda Baca
Pada intinya, setiap dialog diawali dengan tanda petik dan diakhiri dengan tanda petik pembuka (“) dan tanda petik penutup (”). Sebelum tanda petik penutup letakkan tanda baca yang sesuai, seperti tanda tanya (?), tanda seru (!), koma (,) atau titik (.). Contohnya seperti ini:

"Kapan ya kita bisa pergi bareng-bareng lagi?” tanya Ajeng.
“Kapan-kapan deh. Kalau nggak lagi bokek,” sahut Mirna.


Berikut adalah contoh yang salah:
“Kapan ya kita bisa pergi bareng-bareng lagi”? tanya Ajeng.
“Kapan-kapan deh. Kalau nggak lagi bokek”, sahut Mirna.


Jangan lupa aturan huruf kapital tetap berlaku di sini. Bila huruf pertama dalam dialogmu adalah huruf pertama dalam kalimat, maka kamu harus menggunakan huruf kapital, seperti contoh di atas. Hal ini juga berlaku untuk kalimat setelah dialog. Bila dialogmu diakhiri dengan tanda titik, maka huruf pertama pada kalimat selanjutnya harus menggunakan huruf kapital.
Contoh:

“Apa yang harus aku lakukan, Sin?” Ia kembali mondar-mandir di ruangan itu.
“Ehm … yang harus kamu lakukan adalah duduk dan tidak mondar-mandir kayak gitu,” sahutku jengkel.


Berikut adalah beberapa do and don't dalam membuat dialog.

Do:
1. Beri tanda kutip! Tanda kutip [“] memberi makna pada pembaca, bahwa seseorang sedang berbicara.
Contoh:

“Bawa sepatu itu kemari.”
“Jangan tinggalkan aku!”


Kata/kalimat yang berada diantara dua tanda petik ganda merupakan isi pembicaraan dari tokoh tertentu. Dialog ditulis dengan menggunakan paragraf baru.

2. Umumnya, setiap pergantian paragraf menandakan pergantian orang yang berbicara. Dengan kata lain, setiap pembicara memerlukan satu paragraf (untuk mengeksplorasi perkataan dan tindakannya). Hal tersebut berfungsi memudahkan pembaca dalam mengindentifikasi siapa yang berbicara.
Contoh:

“Saya hanya bisa mengulangi bahwa saya minta maaf bila telah mengganggu Anda.”
“Itu belum cukup Mr. Holmes!” geram pria tua itu. Ekspresinya sangat menakutkan. Dia berlari menghalangi pintu, dan menuding-nuding kami. “Jangan kira Anda bisa keluar dengan gampang.” Wajahnya merah padam, dia menyeringai dan meracau dengan kemarahan yang tak bisa dimengerti.
(Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)


Di paragraf pertama memang belum jelas siapa yang berbicara. Tetapi membaca paragraf berikutnya, kita menjadi tahu bahwa tokoh yang berbicara di paragraf awal adalah Mr. Holmes.
Paragraf kedua tak hanya mengeksplorasi pembicaraan, namun juga tindakan dari pak tua, yang digambarkan sangat emosional dan penuh amarah.

3. Dialog dilengkapi dengan tanda pengenal pembicara (atribut), untuk mengenali siapa tokoh yang berbicara.
Contoh:

“Mau makan?”ucap gadis itu
“Ayo, sudah lapar, nih,”ucap sang lelaki.


Pada contoh di atas, ‘ucap gadis itu’ dan ‘ucap sang lelaki’ disebut atribut. Tokoh pada dialog di atas adalah gadis dan lelaki.
Pemakaian kata ‘ucap’ yang terlampau sering, akan membuat monoton cerita. Karenanya, agar variatif, kata ‘ucap’ bisa diganti dengan kata lain yang mendekati situasi pada saat tersebut. Semisal : kata, ujar, sahut, tandas, pinta, tanya, jawab, ajak, himbau, sergah, tampik, tolak, panggil, teriak, gumam, dll
Contoh:

“Mau makan?”Gadis itu bertanya.
“Ayo, aku sudah lapar, nih.”ajak sang lelaki
“Enaknya makan dimana?”Ucap gadis itu.
“Yang dekat sini aja.”Sang lelaki menyahut cepat.


4. Attribut harus diletakkan di tempat yang logis dan efektif, agar terasa alami.
Contoh:

“Aku tidak,”gadis itu berkata,”mencintaimu lagi.”
“Aku tidak mencintaimu lagi.”Kata gadis itu


Contoh pertama di atas terasa janggal diucapkan dibandingkan contoh kedua, yang tampak lebih alami.

5. Jika dialog terlalu panjang, atribut bisa diletakkan di tengah, sebagai pemenggalan. Hal tersebut juga menandakan jeda alami; sang tokoh mengambil napas, berhenti berbicara sejenak, berpikir, atau melakukan sesuatu yang lain.
Contoh

“Ini ikan yang kuat penuh darah,”pikirnya. “Aku beruntung mendapatkannya sebagai pengganti lumba-lumba. Lumba-lumba terlalu manis. Ini manisnya merata dan semua kekuatan masih berada di dalamnya.”
(Lelaki Tua dan Laut-Ernest Hemingway)

“Well, Sir Robert,”kata Holmes sambil berdiri,”kasus ini, tentu saja, harus dilaporkan ke polisi. Tugas saya hanya mencari kebenaran faktanya ….”
(Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)


6. Tak perlu memberikan attribut pada setiap baris dialog, jika hal tersebut sudah cukup menjelaskan siapa-siapa yang berbicara.
Contoh:

Catherine ingin sarapan, begitupun aku. Kami menikmati sarapan di atas tempat tidur dengan nampan di atas pangkuanku, sambil diterangi oleh matahari bulan November.
“Kau tak ingin membaca surat kabar? Kau selalu meminta surat kabar saat masih berada di rumah sakit.”
“Tidak,”kataku. “Aku tak ingin membaca surat kabar saat ini.”
“Sebegitu burukkah sehingga kau tak ingin mengetahui beritanya di surat kabar?”
“Aku tak ingin membacanya.”
“Kuharap aku bersamamu saat itu. Jadi aku tahu apa saja yang terjadi.”
“Aku akan menceritakan padamu, saat otakku bisa berpikir lurus.”
“Apakah mereka takkan menangkapmu karena kau berkeliaran tanpa seragam?”
“Mereka mungkin menembakku.”
(Farewell To Arm-Ernest Hemingway)


Kunci dari membaca dialog di atas adalah paragraf ketiga: “Tidak,”kataku. “Aku tak ingin membaca surat kabar saat ini.” Dengan demikian, menjadi terang bahwa paragraf itu merupakan perkataan dari si Aku. Sehingga, satu paragraf sebelum dan sesudahnya, merupakan perkataan Catherine. Dengan demikian akan jelas juga, siapa-siapa yang berbicara di baris paragraf berikutnya.

7. Perkataan seorang tokoh yang terlalu panjang dan menyita lebih dari satu paragraf, ditulis dengan cara memberi tanda kutip ganda di awal paragraf pertama, dan tak menutupnya dengan tanda kutip di akhir paragraf pertama. Setelahnya, di awal paragraf berikutnya, tanda kutip ganda tersebut disisipkan kembali, dan baru ditutup di akhir paragraf. Hal itu sekaligus pertanda berakhirnya perkataan tokoh tersebut (yang biasanya berupa penjelasan panjang lebar).
Contoh

“Biarlah saya yang menjelaskan,” kata Holmes, “untuk menunjukkan bahwa saya mengerti benar urutan peristiwanya. Profesor Watsburry, Watson, terkenal di seluruh Eropa. Hidupnya dibaktikannya untuk pendidikan. Dia tak pernah terlibat skandal apapun. Dia dua dengan dua anak bernama Edith. Setahuku dia pria jantan dan tegas, bisa dikatakan selalu siap siaga. Begitulah keadaannya sampai beberapa bulan terakhir ini.

“Lalu gaya hidupnya berubah. Dia sudah berusia enam puluh satu tapi dia bertunangan dengan gadis muda, putri professor Murphy, koleganya. Tidak seperti orang-orang seumurnya, dia benar-benar dipenuhi gelora asmara dan tergila-gila pada gadis itu. Tunangannya, Alice Murphy, memang gadis yang sempurna, baik fisik maupun mental, sehingga bisa dimengerti jika profesor terpikat padanya. Tapi keluarga profesor tak begitu menyetujui pertunangan ini.”
(Koleksi kasus Sherlock Holmes-Sir Arthur Conan Doyle)


Pada contoh di atas, di akhir paragraf pertama tidak ada tanda kutip ganda yang menutupnya. Ini berarti pada paragraf kedua, orang yang berbicara masih tokoh yang sama sebagaimana paragraf pertama, yakni Holmes

Dont!

Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang berhubungan dengan penulisan dialog:

1. Menulis dialog dengan kalimat-kalimat indah dan bersajak.
Dialog semacam ini memang cocok bagi karakter tokoh yang memang suka berpantun, namun kurang tepat bila dikenakan pada tokoh yang hidup di lingkungan metropolitan yang berbicara serba ringkas dan cepat.

Pelajaran pertama dalam membuat dialog adalah membuatnya tampak nyata seperti layaknya orang yang berbicara dalam konteks nyata. Untuk itu, penting kiranya bagi para penulis untuk aktif mendengarkan percakapan orang-orang serta dialek atau diksi apa yang sering diucapkan oleh orang-orang dengan suatu karakter tertentu. Perlu juga untuk melafalkan dialog Anda dengan suara keras untuk mengecek apakah dialog itu terdengar enak di telinga dan sudah seperti layaknya percakapan yang nyata.

2. Mengulang-ulang maksud dalam beberapa potong kalimat.
Meskipun dialog sedapat mungkin dibuat agar nyata, namun dialog yang bertele-tele akan membosankan pembaca. Cukup membuat satu kalimat saja untuk menyampaikan sebuah maksud spesifik. Hal ini tentunya akan berlaku lain apabila Anda dengan sengaja ingin menciptakan kesan tokoh yang peragu atau obsesif kompulsif. Namun demikian, terlalu banyak efek justru akan berbalik menjadi bumerang bagi Anda. Dialog yang terlalu panjang juga akan menghambat pergerakan cerita. Jadi rumusnya, bijaksanalah dalam menuliskan dialog.

3. Tidak memperhatikan siapa yang berbicara apa.
Sering kali kita mendapatkan beberapa dialog ditumpukkan tanpa menyebutkan siapa yang berbicara, seperti contohnya di bawah ini:

“Kamu kemarin pulang jam berapa?”
“Jam satu, kenapa?:
“Oh, tidak aku hanya penasaran siapa yang membuka pintu kulkas sekitar jam dua belasan…”
“Kamu yakin mendengar suara itu?”
“Ehm, iya. Tapi sekarang aku jadi agak ragu.”
“Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan hantu yang menjaga rumah ini?”


Ini sah-sah saja apabila kebetulan dialog itu hanya terjadi antara dua orang tokoh. Namun apabila tokoh yang ada lebih dari dua orang maka ceritanya jadi lain. Jika penulis tidak mencantumkan siapa yang berbicara, pembaca mungkin menjadi bingung untuk mengidentifikasi si pembicara. Namun terlalu banyak memberikan nama juga dapat menjemukan. Hal ini bisa diakali dengan cara menyelinginya dengan tanda-tanda yang mengarah kepada totkoh tertentu.
Seperti misalnya di bawah ini:

“Kamu pasti lupa membawa buku itu!” Tuduh Andi.
“Buku apa?” Tanya balik Rizal sambil memainkan rambutnya yang ikal.
“Buku harian Bu Nindi, Bodoh!” Andi tidak dapat menahan amarahnya.
“Oh itu…” Jawab si pemilik rambut ikal itu dengan enteng.


4. Menggunakan “dia” secara tidak cermat, sehingga membuat pembaca bingung “dia” tersebut mengacu pada siapa.

Hal ini sering terjadi pada dialog yang menceritakan beberapa orang. Ketika si tokoh mengatakan “dia” sebaiknya secara tepat mengacu pada sasaran yang dituju, seperti contoh di bawah ini:

“Kemarin aku bertemu dengan Dinda. Ia jalan sama cowok lain. Tahu nggak siapa orang itu? Dito! Dito yang itu…., Na!”
“Apanya yang heboh? Dia kan emang terkenal suka gonta-ganti pacar, kan?”


5. Melekatkan gaya berbicara yang sama kepada setiap tokoh.
Tentunya setiap tokoh memiliki karakter unik. Keunikan itu juga salah satu di antaranya tercermin dari cara si tokoh tersebut berbicara. Penciptaan cara berbicara yang menjadi trademark, entah itu dari pemilihan diksi atau dialek, bagi seorang tokoh tertentu bisa membuat kehadirannya menjadi nyata.

6. Terlalu kaku dalam menggunakan narasi pengantar.
Narasi pengantar yang umumnya digunakan adalah ”kata”, ”ujar”, ”tanya”, dan ”perintah”. Seperti contoh di bawah ini:

”Kita akan pergi besok,” ujar bapak.
”Pergi ke mana?” Tanyaku.
”Ke tempat kelahiran ibumu,” kata bapak.


Cobalah untuk mengeksplorasi istilah-istilah yang lain seperti misalnya: ”kilah”, ”lanjut”, ”potong”, ”tebak”, ”gumam”, ”bisik”, dll.

7. Menulis dialog terlalu panjang.
Terkadang sebagai seorang penulis, kita tidak sabar untuk menyampaikan begitu banyaknya informasi kepada pembaca sehingga tanpa sadar dialog si tokoh jadi mengembang. Sebenarnya dialog yang panjang berpotensi besar untuk membunuh ketertarikan orang dalam membacanya tuntas. Panjangnya dialog juga bisa membuat suasana eksternal (setting, waktu, dll) yang coba untuk dibangun oleh si penulis menjadi kabur.
Jika seandainya dialog memang dibutuhkan panjang, maka seyogyanya untuk memenggalnya menjadi beberapa bagian.
Contoh

“Aku percaya ada beberapa orang yang ditakdirkan berbakat secara supernatural. Misalnya aku yang juga dianugerahi bakat cenayang. Namun aku pun masih tetap harus belajar untuk menajamkan kemampuanku ….”
Cassandra mengambil beberapa bendel dokumen dari dalam tas kerjanya. “Menurut dokumen ini, ada beberapa macam cenayang –yang kutahu– dilihat dari cara mereka menangkap pesan dan mendeteksi keberadaan fenomena supernatural …,” sambung Cassandra.
(ORB: Galang Lufityanto)


8. Hanya mengandalkan dialog saja untuk menciptakan situasi yang diinginkan.
Penggunaan dialog yang terlalu sering, tanpa diselingin jeda penjelasan narasi, akan membuat alur cerita berjalan dengan cepat. Gaya seperti ini cocok untuk cerita detektif atau thriller. Namun untuk cerita yang sifatnya lebih umum, gaya seperti ini tidak selalu cocok. Kekurangan dari gaya dialog yang sambung-menyambung adalah kurang dalamnya pelukisan tentang situasi yang tengah terjadi.
Contoh:

”Pak Hugo, mengapa Anda harus membawa..ta..tas itu? Bukannya malah semakin berat?” Tanya Roni merasa aneh melihat Hugo memanggul tas besar yang diikatkan dengan erat pada tubuhnya.
“Oh…, ini?” Hugo menjawab di sela-sela napasnya yang memburu. “Kupikir ini akan bisa menyelamatkanku nantinya. Siapa tahu?”
Sementara itu mereka bertiga berlari semakin jauh ke dalam hutan. Malam sudah sedemikian pekat sehingga Hugo dan Rani hanya bisa mengandalkan senter dan Cassandra yang berlari mendehului mereka, dan yang secara tidak langsung telah membukakan jalan bagi mereka berdua. Cassandra melompati akar sebuah pohon yang melata lumayan tinggi di atas permukaan tanah dengan lihai seakan-akan hutan ini adalah taman bermain Cassandra sejak kecil. Hugo dan Roni lagi-lagi dibuat terpukau oleh kemampuan wanita ini.
”Seno!!” Teriak Cassandra.
Sayup-sayup terdengar suara.
”Di sini…..”
(ORB: Galang Lufityanto)


Dengan menyelipkan beberapa pokok narasi (dalam contoh: Sementara itu mereka ... ) di antara baris-baris dialog, pembaca dapat melihat adegan cerita sebagai suatu keseluruhan: Karakter beserta situasi di sekelilingnya. Ini membuat pembaca mendapat bayangan yang jelas tentang adegan yang berlangsung dan merasakan emosi yang berusaha dibangun oleh si penulis.

Sebagai tambahan, berikut ada beberapa teknik dalam membuat dialog, beberapa sering digunakan oleh beberapa penulis kelas dunia.

1. Let it flow

Biarkan dialog mengalir begitu saja semenjak anda mulai menulis draft pertama cerita. Seringkali, penulis menghasilkan scene yang luar biasa dengan menuliskan dialog sebagai pembuka. Tonjolkan apa yang karakter anda perdebatkan atau pikirkan, dan segera tuliskan, tanpa atribusi. Hanya berupa kalimat lepas saja. Selanjutnya, kamu bisa menuliskan narasi mengenai kejadian di saat kalimat tersebut terucap, tokoh yang mengucapkannya dan atribusi lainnya.

2. Act it out
Ketika cerita kamu tengah berada di dalam konflik diantara dua tokoh, maka mulailah argumen diantara mereka menggunakan dialog. Tidak ada salahnya memberikan sedikit jeda diantara dialog karena hal ini bisa memancing respon pembaca.

3. Sidestep the obvious
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah membuat a simple back-and-forth exchanges. Setiap baris kalimat merupakan respon dari kalimat sebelumnya dan seringkali mengulang kata atau frasa yang sudah ada. Lihat contoh berikut:

“Hallo, Aira.”
“Hai, Arya.”
“Wow, baju kamu bagus.”
“Baju? Maksud kamu yang aku pake ini? Ini baju turunan mama.”
“Serius? Kelihatan masih seperti baru.”
“Ini nggak baru, kok, but thanks ya.”


Perhatikan adegan percakapan di atas. Terasa kering bukan? Tidak ada kejutan apa-apa didalamnya sehingga pembaca pun akan merasa bosan. Sebaiknya, selipkan sedikit kejutan yang bisa membuat pembacamu bertanya-tanya. Lihat contoh berikut:

“Hallo, Aira.”
“Arya? Kamu di mana?”
“Aku di sini. Wow, baju kamu bagus.”
“Di mana dia, Arya?”


Percakapan di atas akan membuat pembaca bertanya-tanya apakah tujuan dari cerita anda. Cara ini akan membuat pembaca bertahan. Agar cara ini berhasil, lihat setiap adegan percakapan yang anda buat dan ganti setiap respon langsung yang diberikan karakter lainnya.

4. Cultivate silence
Cara ini seringkali menjadi pilihan yang tepat dalam menuliskan dialog. Salah satu master di teknik ini adalah Ernest Hemingway. Cara ini menggabungkan antara silence dan action.
Lihat contoh berikut (diambil dari cerita Hemingway berujudul Hills Like White Elephants):

“Apa sebaiknya kita minum-minum lagi?”
“Tentu saja.”
Angin bertiup dengan kencang dan menggerakkan tirai-tirai di jendela.
“Bir ini sangat enak,” ujar pria tersebut.
“It’s lovely,” sahut perempuan di sebelahnya.
“Ini hanya operasi sederhana, Jig,” ujar pria itu, “ini bahkan bukan operasi yang sebenarnya.”
Si gadis hanya menatap lurus ke gelas-gelas yang ada di meja.
“Aku tahu kamu tidak bermaksud melakukannya, Jig.”
Gadis itu tidak berkata apa-apa.


5. Polish a Gem
Poleslah dialog yang sudah kamu tulis. Temukan kemungkinan baru yang bisa kamu lakukan agar dialogmu menjadi lebih ‘berkilau’.
Coba tiru dialog yang diambil dari masterpiece Mario Puzo berikut.

Ketika Moe Greene marah kepada Michael Corleone muda, alih-alih berkata
“Saya menjual tulang-tulang ini agar kamu bisa sekolah tinggi”
beliau malah berkata,
“Saya menjual tulang-tulang ini agar kamu bisa berkencan dengan pemandu sorak itu.”

Intinya adalah, anda bisa mengganti kalimat di dalam dialog dengan sesuatu yang lebih ‘nendang’.

6. Employ Confrontation
Kebanyakan penulis terjebak dalam eksposisi atau ‘menunjukkan’ di dalam menulis cerita. Narasi yang dihadirkan seringkali kepanjangan, terutama untuk backstory yang pada umumnya mengawali cerita. Padahal, anda bisa menggunakan dialog tanpa mengurangi informasi yang ingin disampaikan.
Pertama, buatlah scene yang penuh ketegangan, biasanya terjadi diantara dua karakter. Biarkan mereka saling adu argumentasi dan kemudian munculkan informasi penting secara natural di dalamnya. Lihat contoh berikut.

“Aku tahu siapa kamu.”
“Kamu tidak tahu apa-apa.”
“Kamu mantan tunangannya, Bayu.”
“Kamu tidak tahu apa-apa, jadi jangan….”
“Kamu mantan tunangan Bayu yang meninggalkan Bayu demi pria lain yang lebih kaya. Benar kan?”


7. Drop Words
Penulis Elmore Leonard sangat menyukai teknik ini. Dengan menyematkan satu kata penting di tempat yang tepat, kamu bisa menimbulkan emosi di dalam ceritamu. Bayangkan anda sedang berbicara langsung, bukannya menulis, maka hasilnya akan terasa lebih nyata. Pilihlah satu kata kunci yang benar-benar menggambarkan maksud satu kalimat panjang.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Awas AnovA Galak!!
avatar
AnovA
Satpol Keple

Jumlah posting : 89
Reputation : 0
Join date : 11.12.12
Lokasi : Dibalik pelukan wanita lain

Kembali Ke Atas Go down

Re: Mari Membuat Cerita

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik