Menilai Adaptasi [AnovA]

Go down

Menilai Adaptasi [AnovA]

Post by AnovA on Sat 15 Dec 2012, 01:04

Menilai Adaptasi

“Begitu manusia belajar bahasa sebagai alat komunikasi untuk kehidupan sehari-hari dia juga belajar mempermainkan bahasa demi tujuan lain” – A Teeuw
Manusia juga bisa disebut makhluk bercerita (homo fabulans), karena pada dasarnya, semua manusia memiliki naluri atau kemampuan dasar untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung mereka. Bentuk penyampaian pengalaman tersebut berkembang seiring mengalirnya waktu. Mulai dari tuturan yang ada sejak jaman prasejarah, kemudian berkembang pemikiran untuk mengabadikan tuturan tersebut dalam bentuk simbol berupa ikon dan aksara, yang sekaligus merupakan tanda beralihnya jaman prasejarah menuju jaman sejarah.

Perkembangan teknologi pun memberikan kontribusinya dengan kemunculan mesin cetak Guttenberg pada tahun 1439, mesin rekam suara pada tahun 1887 dan pada akhir abad ke 19 munculah media baru yaitu gambar bergerak (motion picture) alias film. Pada titik ini film telah menjadi media tutur manusia sebagai sebuah alat komunikasi, sekaligus mengekalkan apa yang sudah dilakukan manusia sejak beribu-ribu tahun, yakni menyampaikan kisah.

Dalam perkembangannya kisah yang dituturkan dalam film bisa berasal dari banyak sumber. Namun pada hakikatnya terbagi dua, cerita asli dan cerita adaptasi. Cerita asli dalam hal ini narasi sebuah film muncul dari buah pikiran penulisnya. Sedang narasi film adaptasi berasal dari sumber media lain yang kemudian dibuat versi filmnya. Sepanjang sejarah perfilman, novel atau komik paling banyak diadaptasi menjadi film, walaupun tidak menutup kemungkinan tuturan cerita film mampu diangkat dari pentas drama, buku non fiksi, lukisan, console game, bahkan wahana permainan.

Untuk media apapun, ketika diadaptasi menjadi sebuah film akan muncul problem yang kurang lebih serupa. Problem ini bersumber dari kenyataan bahwa kisah dalam media lain yang akan diadaptasi sudah dikenal oleh masyarakat. Dan tentu saja sudah mencapai tingkat keterkenalan tertentu. Tingkat keterkenalan ini bagaikan pedang bermata dua. Di sisi satu ia jelas menjadi pijakan pasar film tersebut. Para pembaca komik Spiderman tentu menunggu-nunggu film itu dibuat. Dan mereka jumlahnya banyak sehingga tentu merupakan potensi pasar tersendiri. Namun mata pedang yang lain menikam para pembuat filmnya. Ketika menonton filmnya, para penggemar media lain ini biasanya sudah punya acuan. Akibatnya tentu ada tingkat kepuasan yang harus dipenuhi oleh para pembuat film agar film tersebut tidak dicaci maki oleh para penggemar media aslinya sehingga akhirnya alih-alih membuat film itu laku, malah gagal total dalam pemasaran dan dimaki-maki puluhan surat pembaca ke koran dan majalah yang memprotes “rusaknya” tokoh kesayangan mereka dengan film.

Maka dari itu, pedang bermata dua ini harus digunakan dengan hati-hati oleh para pembuat film agar tak menusuk diri mereka sendiri. Kehati-hatian seperti apa? Para pembuat film harus bisa mendayung di antara dua karang. Karang pertama adalah kesetiaan terhadap media asal, dan karang kedua adalah penyesuaian yang dianggap perlu.

Kemudian problem lain dalam adaptasi adalah pada teknik komunikasi yang dipakai. Ini adalah soal pilihan sang pembuat film. Media lain punya metode sendiri agar komunikasinya bisa sampai sesuai yang dimaksud. Buku punya kesempatan bermain gaya bahasa, mendeskripsikan pikiran orang dan sebagainya untuk mencapai kedalaman dan imajinasi. Komik punya kemampuan merendengkan panel-panel yang mempertahankan momen dramatik dari sebuah cerita. Console game memiliki kemampuan interaktif yang sangat langsung di mana jalan cerita dan nasib akhir tokoh protagonis ditentukan langsung oleh pemain game tersebut. Wahana permainan mampu membuat orang untuk mengalami sensasi untuk seluruh tubuh beserta lingkungan fisiknya. Semua ini ikut menentukan sebuah adaptasi ke dalam film. Bentuk komunikasi seperti apa yang akan diambil oleh sang film untuk dapat “setia” bukan hanya kepada isi, tetapi juga dari bentuk komunikasi media tersebut.

Dalam proses penuangan kisah dari sebuah media lain tentu saja tidak bisa dilakukan mentah-mentah. Dalam proses adaptasi karya tulis misalkan; Seorang sutradara Austria, Erich von Stroheim pernah mengadaptasi novel McTeague (Frank Norris, 1899)-mengisahkan misteri pembunuhan seorang pelayan- dengan begitu detil. Tentu saja hal ini berdampak pada durasi film yang diberi judul Greed, yang memakan waktu 12 jam. Kemudian untuk mengatasi hal ini, di Hollywood dikenalkan apa yang disebut Selznicks Approach, yang kemudian menjadi titik tolak oleh apa yang kini dikenal sebagai struktur tiga babak. Film hadir dengan penceritaan lengkap dari awal sampai akhir dengan durasi satu hingga tiga jam.

Hasil adaptasi ini menimbulkan ‘pemampatan’ cerita. Karya tulis tebal dengan ratusan halaman tebal dirangkum jadi pertunjukan berdurasi 2 jam. Selain itu ketika karya tertulis diadaptasi menjadi karya audio visual, hilanglah kebebasan para pembaca karya tertulis itu akan kebebasan mereka berimajinasi dalam menikmati karya tertulis tersebut. Ketika membaca sebuah novel atau cerita pendek, seorang pembaca secara aktif membayangkan segala sesuatu dalam karya tertulis tersebut. Mulai dari karakter, lokasi atau setting cerita, pakaian sang tokoh, terjadinya peristiwa dan seterusnya dan seterusnya. Teks-teks yang terdiri dari susunan huruf-huruf itu (pada karya tertulis yang baik) berhasil membuat imajinasi kita mengembara membuat gambaran-gambaran yang hidup. Terjadi semacam interaksi mental yang sangat aktif antara aksara yang pada dasarnya berjumlah 26 itu (pada bahasa tertentu mungkin lebih, bahkan bisa ribuan) dengan imajinasi kita.

Proses berimajinasi macam ini mau tak mau harus dihentikan ketika kita menonton film. Bukan berarti film sama sekali tak punya kemampuan membangkitkan imajinasi. Namun film adalah media audio visual, sebuah sarana komunikasi di mana proses mental pengembaraan kita dibatasi oleh visualisasi yang disodorkan secara searah oleh pembuat film. Dengan demikian sesungguhnya sudah ada previlege pembaca buku yang “dicuri” oleh film.
Susunan kata-kata dalam karya tertulis adalah sesuatu yang sudah diperhitungkan dengan baik oleh penulisnya. Bahasa (maksud saya, tentu dalam arti sempit, yaitu bahasa tertulis) punya keindahan sendiri bagi para penikmatnya. Bahasa mampu menghadirkan kedalaman makna dan kemultitafsiran yang sangat menyenangkan untuk dinikmati

Lalu bagaimana dengan adaptasi dari console game? Game juga sebuah media audio visual, kan? Console game memiliki unsur utama yang benar-benar tidak bisa diadaptasi oleh film. Yaitu kemampuan interaksi. Keberadaan controller, baik berupa joystick, keyboard, mouse atau apapun itu adalah simbol kendali penikmatnya pada media tersebut. Dengan controller tersebut penggemar game akan mengendalikan game, mulai dari memilih karakter, menentukan gerakan karakter, bahkan menentukan akhir cerita game tersebut. Hal tersebut jelas hilang sama sekali dalam film. Karena itu sampai saat ini belum ada adaptasi dari console game yang bisa sukses besar.

Perhatikan kehilangan para penggemar permainan Street Fighter, misalnya. Mereka yang mungkin gemar sekali memainkan karakter Ken atau Ryu, tentu akan kesal misalnya karena yang menjadi karakter utama film adaptasi itu adalah Guile. Kemudian para penggemar permainan ini yang biasa memakai tokoh Guile juga mungkin kesal mengapa rambut Guile tidak jabrik atau mengapa jurus tendangan memutar sambil berbalik yang biasa dipakai oleh Guile tidak kunjung keluar hingga akhir film. Karena biasanya mereka tinggal menekan tombol-tombol saja untuk mengeluarkan jurus tersebut.

Satu lagi masalah klasik yang timbul dari film adaptasi adalah munculnya kecenderungan untuk membandingkan karya media asal dan film hasil adaptasinya. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi seandainya film tersebut dinilai secara objektif sebagai sebuah film yang berdiri sendiri. Film adalah media yang sama sekali berbeda dengan media yang diangkat jadi film. Film adalah film, bukan lagi novel, komik, cerpen, lukisan, pentas drama ataupun console game.

Film adalah sebuah media yang utuh, terpisah dan harus mampu bercerita sendiri tanpa harus dijelas-jelaskan, diacu-acukan kepada media lain, dan terutama media sumber inspirasi film tersebut. Jangan lupa bahwa film adalah media yang memiliki perangkat storytelling-nya sendiri sehingga ketika ia sampai ke penonton, ia harus mampu bercerita secara utuh, bulat dan tak perlu ada prasyarat macam-macam untuk bisa mengerti film ini bercerita tentang apa.

Dengan demikian, sebuah film seharusnya tidak disanding-sandingkan dengan buku sumber adaptasi film tersebut. Keduanya adalah media yang berbeda dengan niat dan cara bercerita yang berbeda. Biarkanlah keduanya berada di alamnya masing-masing. Perkara buku menginspirasi film atau film menginspirasi buku, tentu saja itu wajar. Dan perbincangan tentang film yang “tak sehebat bukunya” atau hal semacam itu, tentu sudah membosankan karena akan melahirkan daftar panjang yang tak akan pernah habis. Karena, sekali lagi, keduanya adalah media berbeda dan perlakukanlah secara berbeda!

Penilaian sukses atau tidaknya sebuah film pada hakikatnya tergantung pada bagaimana film tersebut mewujud sebagai film yang baik, tak perduli dari mana narasi film tersebut bersumber. Film adaptasi atau film asli sama nilainya. Yang terpenting adalah bagaimana unsur-unsur dalam film tersebut berpadu membentuk sebuah film yang baik.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Awas AnovA Galak!!
avatar
AnovA
Satpol Keple

Jumlah posting : 89
Reputation : 0
Join date : 11.12.12
Lokasi : Dibalik pelukan wanita lain

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik