7 DAYS by andreeejf

Go down

7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Wed 12 Dec 2012, 11:52

7 DAYS









“i swear an oath, that one day everyone will acknowledge my existence !”
Rea - 17 years old

“i am Loki. It’s a pleasure to meet you”
Loki – unknown age








“I shall give you one lucky chance to change your fate, once and for all
Roar, so the world will acknowledge your existence”


Loki, the Trickster
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Wed 12 Dec 2012, 11:54

PROLOG






Loki’s Mansion, the Day before “Day One”


“sepertinya aku butuh istirahat. Kerja terus menerus tanpa libur membuatku gila. Hei, boss ! berikan aku libur ! memangnya kau pikir aku binatang, hah ?!” orang itu berkata dengan suara lantang kepada Loki.

“alright, alright. Stop blabber around, fool ! How much ?” tanya Loki kepada orang itu.

“setahun boss !” Loki mengernyitkan dahi mendengar kata ‘setahun’.

“ah, how about 7 days ?” tanya balik Loki.

“8 hari deh boss !” orang yang memanggil Loki ‘boss’ ini mencoba menawar.

“7 days. Accept or not ?” Loki tidak memberikan kesempatan sekalipun kepada orang itu untuk menawar.

“hah, baiklah. Aku terima saja.” Jawabnya pasrah.

“but I have to find someone who could replace you for 7 days, and I have not yet find that proper person. Let me think, let me think.. give me 5 minutes.. Ah, you make me confuse…” Kata Loki sambil mengeluh.

Sejenak hening. Loki tampak sedang berpikir keras, terlihat dari raut mukanya yang serius. Lalu sebuah senyum terpancar dari wajahnya, senyum yang licik. Lalu Loki mengambil secarik kertas dan pulpen, dan mulai menuliskan sesuatu pada kertas tersebut. Setelah itu Loki menaruhnya dalam sebuah amplop hitam dengan segel merah.

“I found someone who could replace your job for a week. Deliver this invitation letter to him, and make sure that you DO your job well this time.” Kata Loki memberi instruksi, dan memberi penekanan nada pada kata ‘do’.

“dan siapa orang yang boss maksud?” tanya orang itu.

“his name was Rea. I met him yesterday. His blue eyes.. I can read the suffering from that sad eyes.. yes, he’s the one who could replace you. The one with the sorrowful life..” raut muka Loki tiba-tiba berubah menjadi serius.

Orang itu hanya mengangguk menerima instruksi dari Loki, lalu pergi keluar dari ruangan besar tempat Loki berada tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“it’s 7 days before the ‘Retribution’, let me have some fun with this filthy world, and I will leave the rest to you..” Loki tersenyum, senyum yang lebih licik dari sebelumnya.
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Wed 12 Dec 2012, 11:57

Opening story

Two days before the ‘day one’









02.00 PM

Siang itu hujan turun dengan deras, disertai dengan petir yang terus menerus menggelegar. Membuat Jakarta menjadi kota yang kelabu, meskipun pada siang hari. Hanya sedikit orang yang masih melakukan aktifitas, entah karena memang hobi atau terpaksa. Di suatu sudut kota, tampak seorang anak laki-laki yang sedang berteduh di teras salah satu bangunan yang tidak lagi terpakai. Perawakannya kurus. Dengan potongan rambut Emo, matanya yang berwarna biru laut, juga 3 tindikan di telinga kirinya dan tatto barcode di lengan kanannya.

Penampilannya layaknya seorang b-boy, dengan topi hitam yang digeser ke samping, kacamata fashion besar warna hitam, t-shirt hitam-putih agak longgar dengan tulisan di dadanya “UNITED DANCE WORKS”, tas ransel warna hitam-merah merk Nike, skinny jeans biru gelap merk Cheap Monday, serta sepatu Nike Dunk Furious Flow warna hitam-merah nya.

“aaaah, gila ! gede banget hujannya nih, kayaknya lama sampe rumah deh..” kata anak laki-laki itu sambil menghela nafas.
“ini serem juga bangunannya, tapi sedikit eksplorasi ‘penghuni’ nya mungkin seru hehe.. yah, sekalian ngilangin bosen deh! Waw, Rea.. this will be fun.” lanjut anak itu sambil menyunggingkan senyum lebar.

Namanya Rea. Bocah laki-laki berumur 17 tahun yang baru saja lulus SMA. Rea terjebak sendirian diantara hujan yang terus mengguyur Jakarta, memaksanya berteduh untuk waktu yang lama di salah satu bangunan yang kini sudah tidak terpakai. Seharusnya siang ini Rea sudah tiba di taman Menteng, untuk latihan Breakdance dan juga Skateboard. Tapi karena hujan deras, maka dia memutuskan untuk pulang. Rea mengambil pilihan untuk berteduh, karena hujan yang turun semakin deras.

Rea mulai berjalan kearah pintu masuk gedung tersebut. Langkahnya dibuat sepelan dan sehati-hati mungkin. Sesampainya di depan pintu, Rea menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya pelan.

“kalo pintu ini dikunci, gue batalin niat gue buat masuk ke dalem.” Kata Rea dalam hati.

Rea menarik engsel pintu ke bawah, dan... Krieeeet....! pintu pun terbuka. Rea terbengong-bengong melihat pintu yang terbuka dengan mudahnya. Tidak dikunci. Rea meneguk ludah, sebelum akhirnya melangkahkan kaki nya untuk masuk ke gedung itu.

“bego banget deh yang kelola gedung ini. Tanpa penjagaan, tanpa pengamanan. Orang kan bisa aja berbuat yang engga-engga disini.” Rea berbicara sendiri.

Saat Rea sudah berada di dalam, tiba-tiba angin dingin berhembus kencang yang disertai dengan suara petir menggelegar. Bulu kuduk Rea pun spontan berdiri. Sementara matanya masih melirik ke kanan dan kiri, mencoba mengenali keadaan sekitar di tengah pencahayaan gedung yang ala kadarnya. Itupun dibantu dengan cahaya dari luar. Namun yang dilihat Rea hanya ruangan kosong dengan sofa lusuh dan kumal di tengah-tengahnya.

“engga ada apa-apa. Oh iya, kan ga pake cara itu ya hehe” kembali Rea berkomentar sendiri. Kali ini disertai dengan tawa cengengesan.

Rea melepas kaca mata besar warna hitamnya. Kemudian melihat sekeliling, sekali lagi. Perhatiannya langsung tertuju pada sofa lusuh yang berada di tengah ruangan. Dan yang sekarang Rea lihat adalah, sesosok perempuan dengan rambut panjang yang sedang duduk di sofa lusuh itu. Rambutnya menutupi wajahnya yang sedang menunduk. Sementara pakaiannya pun terlihat compang-camping, dengan baju yang sudah robek-robek dan jeans yang dekil. Aura disekitar perempuan itu terasa pekat dan menekan, membuat Rea merasa tidak nyaman.

“oke, itu udah ada satu. Eh eh, lo bukan orang kan ya? Tadi soalnya gue liat di sofa, lo ga ada. Eh pas gue lepas kaca mata, tiba-tiba lo muncul gitu aja. Lo setan kan ya?” tanya Rea polos.

Perempuan itu diam, tidak bicara sepatah katapun. Tapi tangan kanan nya melambai-lambai kearah Rea, memintanya untuk menghampirinya. Rea perlahan mendekati perempuan itu dengan hati-hati. Saat jarak diantara mereka berdua sudah tidak terlalu jauh, perempuan itu bangkit dari duduknya, dan mendongakkan kepalanya. Rea dapat melihat jelas wajah perempuan itu sekarang. Wajahnya cantik, namun pucat dengan bibir yang membiru. Dan bibir itupun bergerak, mengucapkan kata demi kata.

“kamu bisa.... lihat aku ?” tanya perempuan itu.

“bisa lah, kalo ga bisa mana mungkin gue nyamperin lo terus jawab pertanyaan lo. Gimana sih” jawab Rea, nyolot.

“biasanya... orang yang melihatku langsung lari ketakutan, keluar... dari gedung ini. Satpam yang beberapa hari yang lalu ditugaskan... menjaga gedung inipun juga begitu. Kamu... kenapa bisa lihat aku? Padahal... aku tidak berusaha menunjukkan diri... pada... mu.” Kembali perempuan itu bertanya kepada Rea.

“oh itu, kalo gue engga pake kaca mata, gue bisa liat berbagai hal yang... yah, semacam lo gini lah. Udah keturunan sih, dari kakek. Dari kecil juga udah biasa, makanya ga terlalu kaget kalo liat hal yang macem lo gini.” Jawab Rea lugas.

“namaku Dyah... dan kalau... tidak keberatan... aku mau minta tolong...” ‘perempuan’ bernama Dyah itu mengajukan permintaan.

“minta tolong apa ? jangan yang aneh-aneh ya.” Rea mulai menjaga jarak dengan Dyah, menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pengalaman nya bertemu dengan beberapa makhluk halus membuatnya belajar bahwa tidak semua makhluk halus bisa diajak bicara baik-baik. Rata-rata malah ada yang berbahaya.

“aku... meninggal di gedung ini... lebih tepatnya... tewas...” Dyah menghela nafas.

“aku... dicegat oleh sekelompok preman yang sedang mabuk, yang membawaku ke gedung ini. Mereka... kemudian memperkosaku... diatas sofa ini... lalu setelah puas, aku dicekik sampai mati...” lanjut Dyah, sambil memperlihatkan lehernya yang ada bekas biru tanda habis dicekik.

“kemudian... mayatku mereka sembunyikan di sudut ruangan ini...” sambung Dyah.

“terus, maksud lo gue harus kasih tau sama orang lain, well... polisi deh, kalo mayat lo ada di gedung ini kan ? supaya lo bisa tenang, gitu kan?” tebak Rea.

“ya... kamu benar... aku minta tolong padamu... untuk memberitahu orang lain... bahwa ada jasad yang belum dikuburkan... disini... agar aku bisa tenang...” jawab Dyah, nadanya terdengar menakutkan.

“yep, oke ! gue bantu kok, tenang aja hehe.” Kata Rea sambil tersenyum.

“terima kasih...” lalu Dyah pun ikut menyunggingkan bibir pucatnya, tersenyum. senyum yang tulus.

“iya, sama-sama ya. Udah lo istirahat aja yang tenang. Leave the rest to me, okay ? gue bakal hubungin polisi, supaya mereka usut sampe tuntas dan tangkepin tuh orang-orang yang perkosa dan bunuh elo. Biar mampus dihukum seberat-beratnya tuh orang-orang !” kata Rea sambil bersungut-sungut.

“oh iya... tolong sekalian juga... sama jasad satpam yang dibunuh... saat para preman itu... memaksa masuk... ke gedung ini... jasadnya... ada di samping... jasad... aku...” tambah Dyah.

“eh ? jadi, kalo gitu...” Rea tidak meneruskan kalimatnya. Ada hembusan semilir angin yang dingin dibelakangnya, membuat bulu kuduk di tengkuknya berdiri dengan hebatnya. Lalu spontan Rea memutar badannya ke belakang.

Di depan nya sekarang berdiri seorang laki-laki tinggi dan tegap, memakai baju satpam yang sudah berlumuran darah. Tampak luka sayatan sangat lebar di lehernya, sampai lehernya terlihat agak menggantung seperti mau putus. Wajah laki-laki itu sama pucatnya dengan Dyah, bedanya hanya dari mata, lubang hidung, dan mulutnya mengeluarkan darah. Laki-laki itu menyeringai menakutkan kearah Rea.

“oh damn...” kata Rea sambil memasang wajah pasrah.


***


05.23 PM

Senja itu hujan masih turun rintik-rintik. Namun pemandangan berbeda terlihat di depan gedung tua tempat Rea berteduh. Sekarang banyak warga dan beberapa polisi yang berkerumun di tempat itu. Juga dua mobil polisi dan satu ambulans dengan lampunya yang masih menyala-nyala. Salah satu polisi itu menghampiri Rea yang sedang duduk di pojok teras, sambil menikmati secangkir kopi hangat.

“Adik, terima kasih banyak atas laporan kamu. Dari laporan ini kami bisa mengembangkan kasusnya, dan secepatnya akan menangkap para pelaku. Bukti yang dikumpulkan lebih dari cukup, sanggup untuk menyeret pelaku supaya mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.” Kata Polisi di depan Rea.

“terus, tugas saya cukup sampe disini pak?” tanya Rea memastikan.

“adik sewaktu-waktu akan kami panggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi, yang akan memberatkan para pelaku. Jadi kami mohon agar adik kooperatif, demi kebaikan bersama. Untuk itu, maka saya minta identitas adik. Bisa ?” Jawab si Polisi.

“oke pak, sebentar ya.” Rea membuka dompetnya, lalu menyerahkan fotokopi ktp beserta secarik kertas dengan nomer handphone nya yang tertera di kertas itu.

Lalu Rea pamit kepada beberapa polisi yang sedang sibuk memasang garis. Hujan masih turun rintik-rintik, namun Rea memutuskan untuk tetap beranjak pergi dari tempat tersebut. Melewati jalan-jalan sepi sudut Jakarta, sampai akhirnya menemukan jalan raya. Rea memberhentikan sebuah bus yang lewat, lalu naik.

Dan bus pun melaju kencang menuju Mampang, ke arah daerah rumah Rea.


***


06.18 PM

Rea turun dari bus tepat di depan Seven Eleven Mampang, lalu mulai melangkahkan kakinya ke area toko waralaba itu. Kepala Rea menengok ke kanan dan kiri, mencari-cari sesuatu. Namun yang dicari sepertinya tidak ada, maka Rea memutuskan untuk mengambil sebuah kursi lalu duduk di area luar Seven Eleven. Dia merogoh handphone yang disimpan di saku celananya, lalu membaca sebuah sms yang membuatnya berada disini sekarang.

“Re, bisa ketemu di sevel Mampang ? ada yang mau gue omongin. Vanya.” Rea kembali membaca sms tersebut.Lalu kemudian membalasnya.

“gue udah sampe, emang ada apaan ?” balas Rea.

“bagus pas dia sms, gue masih di Kuningan. Jadi bisa turun disini.” Kata Rea dalam hati, disusul dengan handphone-nya yang bergetar. Tanda ada sms masuk.

“oke tunggu ya, gue sebentar lagi sampe. Udah nanti aja disana gue jelasin.” Jelas isi pesan tersebut.

Tidak sampai 10 menit, terlihat seorang perempuan bersama seorang laki-laki menuju kearah tempat Rea duduk. Rea mengernyitkan dahi, dia kenal perempuan itu. Vanya, pacar Rea. Tapi seorang lagi ?

“udah lama ? sori gue bikin nunggu.” Kata Vanya kepada Rea.
“eh iya gpp, tumben banget ngajak ketemu. Biasanya sibuk..” balas Rea.
“eh, kenalin. Re, ini Evan. Van, ini Rea.” Kata Vanya kepada keduanya.
“Rea.”
“Evan.”

Merekapun bersalaman. Yah, sekedar salam formalitas. Rea masih menyisakan satu pertanyaan di dalam hatinya, tentang siapa sebenarnya orang ini. Tatapan Rea tajam memandang Evan.

“Re, Evan itu cowok gue.” Kata Vanya dengan entengnya.

Bagai disambar petir, Rea begitu kaget sampai tersedak saat dia sedang meminum segelas Mini Gulp. Setelah berhasil menguasai dirinya, Rea menatap tajam kearah Vanya. Vanya hanya mengangguk sambil balik memandangi Rea.

“serius lo ?! eh terus hubungan kita gimana ?! kok lo tega sih sama gue !” protes Rea, yang ditanggapi dingin oleh Vanya.

“gini bro.. yang gue tangkep dari curhatan Vanya selama ini, lo tuh kurang perhatian sama Vanya. Baik secara materi maupun perhatian sebagai seorang pacar. Gue yang tadinya cuma denger curhatan nya aja, mulai ada perasaan sama dia. Gue pengen jagain dia, kasih dia perhatian yang ga bisa dia dapet dari lo. Makanya gue nekat nembak Vanya, dan langsung diterima jadi cowoknya.” Evan menyambar omongan Rea, lalu berlagak sok tahu memberi penjelasan.

“Vanya jelasin kalo dia belom putus sama lo, terus gue dikasih pilihan untuk jadi yang kedua. Gue bilang sama Vanya, ga masalah jadi yang keberapa pun, demi dia. Nah, resmi lah kita pacaran. Dan sekarang udah mulai jalan 2 bulan. Vanya juga udah mulai capek sama sikap lo itu.” Lanjut Evan tanpa memberikan kesempatan bagi Rea untuk mencerna semua yang baru saja terjadi.

Rea masih bengong, mencoba untuk menguasai dirinya sendiri. Telinganya terasa panas saat tiap kata demi kata yang keluar dari bibir Evan, masuk ke telinganya. Begitupun juga dengan perasaan nya. Rea merasa bahwa hatinya sekarang seperti batu karang yang rapuh dan bisa hancur kapan saja. Berkali-kali dia menelan ludah, dan memaksa otaknya untuk menerima kenyataan ini.

“Rea, gue ucapin makasih banget untuk 3 tahun yang udah kita lewatin bareng-bareng. Berkat lo juga, gue bisa lulus SMA dengan nilai lumayan bagus. Tapi gue rasa, cuma sampai sini aja kayaknya. Gue udah ga ada perasaan apa-apa lagi sama lo, dan juga banyak alesan lain yang ngebuat gue makin yakin untuk putus.” Akhirnya Vanya yang berbicara, tapi dengan wajah menghadap kebawah.

“gue ga sanggup sama sifat lo yang cuek. Gue cewek Re, butuh perhatian. Ga mungkin kan kalo gue terus yang kasih perhatian ke elo, tapi ga ada timbal baliknya ? belum lagi tiap lo cerita tentang masalah keluarga lo, yang lo berantem sama saudara tiri lo lah, yang bokap lo malah belain anak tirinya dibandingin elo, anak kandungnya. Gue ga sanggup pacaran sama cowok broken home, Re..” lanjut Vanya memberi penjelasan.

“dan terakhir, maaf ya. Lo boleh bilang gue matre atau apalah. Tapi jujur Re, gue capek banget kalo tiap kita anniv itu engga ada yang spesial dari lo. Gue pengen kayak cewek lain. Yang bisa jalan-jalan terus nonton, makan atau hang-out berdua di cafe. Gue pengen punya cowok normal yang disukain sama banyak orang, perhatian tulus sama pacarnya, engga cari perhatian dengan sok bikin masalah supaya orang lain bisa ngeliat kalo lo itu ada, yang jelas pekerjaan nya, status keluarganya, siapa aja temen-temen nya. gue cuma minta itu... dan semua itu gue dapet dari diri Evan.” Vanya menyelesaikan kata-katanya, lalu mengambil nafas panjang.

Rea menghela nafas, lalu melepas kaca mata besar warna hitamnya. Rea tidak perduli lagi dengan banyaknya pemandangan aneh dan menyeramkan yang sekarang ada disekitar Rea setelah dia melepas kaca mata nya. Hatinya terlalu sakit untuk bisa perduli terhadap hal lain. Sekarang perasaan nya tidak karuan, bagai sedang dihantam dengan palu yang sangat besar. Begitupun kepalanya terasa amat berat, seakan semua darah naik ke otaknya.

“ah... ya, udah ga ada yang perlu diomongin lagi kan ? gue pamit pulang ya, capek. Sory, ga bisa kasih komentar. Gue bener-bener bingung harus ngomong apa..” kata Rea dengan nada dingin.

“dan, gue harap setelah ini lo ga akan ganggu hubungan gue sama Vanya. Tolong tau diri sama posisi lo sekarang bro !” kata Evan dengan nada meninggi.

Rea sudah mengepalkan tinju kanan nya begitu keras. Satu kali lagi Evan berbicara merendahkannya, maka tinju Rea akan bersarang di muka cowok sombong itu dengan sukses. Namun ada yang memegang tinju Rea dengan tangan kanan nya yang pucat, sambil menepuk-nepuk pundak Rea dengan tangan kirinya.

“ah, ternyata Lusi.” kata Rea dalam hati. Lusi adalah hantu wanita korban tabrak lari di perempatan Mampang ini, yang sekarang ikut menguping pembicaraan antara Rea, Vanya, dan Evan.

Rea mengenalnya setelah beberapa kali dirinya melihat Lusi di perempatan sedang mondar-mandir kebingungan. Waktu itu Rea lupa membawa kaca mata, sehingga Rea dapat melihat Lusi dengan jelas. Lusi pun tahu kalau Rea suka hang out di tempat ini, makanya kadang Lusi menghampiri Rea untuk mengajaknya bermain.

“iya, iya. Gue sabar kok.. nih, ga jadi emosi kan..” lanjut Rea, masih dalam hati. Rea bisa mengerti maksud Lusi, meskipun tanpa kata-kata. Baginya, lebih mudah mengerti hantu daripada manusia itu sendiri.

“sekarang udah jelas kan ? oke gue pulang ya.” Kata Rea dingin.

“lo mau dianterin pulang ga ? gue bawa mobil sih.” Tawar Evan, yang langsung ditolak mentah – mentah oleh Rea.

Rea beranjak dari kursinya, lalu berjalan keluar area Seven Eleven. Rea tidak lagi memperdulikan Vanya atau Evan yang terus melihatnya berjalan menjauh dari tempat mereka berdua berada. Cukup sudah dirinya dipermalukan, setidaknya Rea masih punya harga diri dengan tidak memperdulikan mereka.


***


07.58 PM

Rea menyusuri jalan-jalan kecil yang becek sehabis hujan tadi siang. Sekarang sudah malam, langit yang berawan tadi kini berganti dengan bintang-bintang yang ganti menghias langit malam. Rea berjalan sambil menundukkan kepala. Pandangan matanya kosong. Orang bilang bahwa ada satu hari dalam hidup setiap manusia, dimana mereka akan merasa bahwa hari itu benar-benar hari sial mereka. Dan Rea sekarang berpikir, bahwa mungkin hari sialnya itu adalah hari ini.
Rea terus berjalan melewati deretan toko-toko yang sudah tutup. Dia berjalan masih dengan menundukkan kepala, tidak sadar akan orang yang berjalan di depan nya.

BRAK !

Badan Rea menghantam orang itu dengan keras. Keseimbangan Rea goyah, yang mengakibatkan dirinya jatuh ke belakang. Begitupun juga dengan orang yang ditabraknya. Rea yang sadar telah berbuat salah, langsung meminta maaf.

“ah, maaf om.. ah, maksud saya maaf pak ! tadi saya jalan engga liat-liat kalo di depan ada orang. Aduh, sory banget pak bajunya jadi kotor gitu kena becekan, aduuuhh...” Rea meminta maaf berulang-ulang kepada orang yang ditabraknya.

“ah, tidak apa – apa.. tidak apa – apa.. setelan ini bisa di laundry kok, bukan hal yang merepotkan. Daripada itu, apa kamu baik-baik saja, anak muda ? ah, ya. Perkenalkan, saya Loki.” Tanya orang yang bernama Loki itu sambil mengulurkan tangan kanan nya.

Rea menyambut tangan itu, dan merekapun berjabat tangan. Rea merasa aneh dengan nama orang itu. Loki, nama yang sepertinya pernah didengarnya. Entah dimana.

“saya Rea. Saya sih gpp pak, justru saya malah khawatir sama bapak. Kan bapak yang saya tabrak.” Jawab Rea sambil membetulkan posisi kaca matanya.

Rea menatap orang di depan nya ini dengan seksama. Rea menaksir umur orang ini sekitar 30 – 35 tahun. Wajahnya tirus dengan kontur muka seperti orang spanyol, atau meksiko. Dengan jenggot segaris vertikal yang menghiasi dagunya. Rambutnya berponi ke depan, dengan sisi sampingnya yang lebih panjang dari sisi belakangnya. Seperti gaya rambut orang – orang Jepang, pikir Rea. Yang membuat Rea heran, orang ini berjalan menyusuri jalan sepi dan becek dengan berpakaian setelan jas dan celana putih yang tampak mahal. Lengkap dengan dasi warna perak dan kemeja warna putih bersih dibalik jas nya. Rea memperhatikan tongkat yang dipegangnya, tongkat dengan hiasan batu ruby di ujungnya. Jelas orang ini bukan orang sembarangan, dengan segala atributnya yang menandakan demikian.

“panggil om saja, ahahaha.. Ah, ya ! Matamu.. mata biru yang indah.. namun sepertinya mata itu bisa lebih indah lagi.” Tiba-tiba Loki mengatakan sesuatu yang membuat Rea bingung.

“maksudnya om ?” tanya Rea memastikan.

“aku percaya, bahwa mata biru itu bisa memancarkan cahaya nya lebih dari ini. Apa ada sesuatu yang terjadi padamu sampai membuat mata yang indah itu kehilangan sebagian besar cahaya nya ?” kembali Loki bertanya.

“orang ini ngomong apasih, gue ga ngerti sama sekali.” Kata Rea dalam hati. Rea mulai merasa tidak enak, lalu melihat handphone nya. Sudah jam 8. Dia harus segera pulang ke rumah atau tidak boleh pulang sama sekali. Jam setengah 9 adalah batas untuk Rea supaya bisa masuk ke dalam rumahnya. Ayahnya menetapkan peraturan demikian kepada Rea, entah untuk apa maksudnya.

“om, sekali lagi saya mohon maaf karena udah bikin kotor baju om.. tapi saya harus buru-buru pulang, soalnya saya harus sampe rumah paling lambat jam setengah 9. Kalo engga saya ga boleh pulang.” Kata Rea meminta izin untuk pergi.

“oh, baiklah. Sampai jumpa lagi anak muda, ahahaha... !” seru Loki disertai tawa yang cukup keras terdengar.
Rea pun berlari sekencang-kencangnya untuk sampai rumah. Dia tidak menyadari tatapan Loki yang melihatnya dari kejauhan, melihat dengan mata yang seperti mengintai mangsa.


***


08.23 PM

“malam yah, sory agak telat pulangnya..” kata Rea memberi salam kepada ayahnya yang berdiri di depan pintu.

BUK !!

Sebuah pukulan mendarat mulus di pipi Rea. Membuat keseimbangannya goyah, dan Rea langsung bersandar ke dinding agar tidak jatuh. Lalu sebuah tendangan menyusul ke arah perutnya.

BUAK !!

Tendangan itu dengan sukses menghantam perut Rea, membuatnya terjerembab ke lantai. Spontan Rea memegang perutnya yang sakit luar biasa karena tendangan ayahnya.

“bocah sialan lu hah !! kerjaan lu kan maen terus saban hari, kagak tau diri pulangnya !! lu pikir ini rumah lu, bisa seenaknya pulang malem ?! kalo lu kerja, gpp lu pulang malem ! lah ini lu cuma pengangguran, baru lulus SMA aja belagu luh..” bentak ayahnya.

“kan Rea pulangnya pas jam setengah 9, kenapa masih dimarahin juga !” kata Rea dengan nada tinggi.

DAAAAKKK !!

Kali ini tendangan ke arah badan Rea membuatnya terpental menghantam pintu.

“gua bilang kalo elu pulang itu jam 8 !! paling telat jam setengah 9, yang berarti elu ga boleh telat pulang !! dasar bego !” kembali ayahnya membentak Rea dengan kata – kata kasar.

“tuh, coba kayak sodara lu, kerja !! kerjaan nya enak, dapet fasilitas motor.. ga macem – macem orangnya, ga kayak elu !! sok mimpi mau jadi ini jadi itu !! kebanyakan nonton pelem lu, hah ! emang elu bisa ngehasilin duit kalo joget – joget ga jelas gitu, iya ?! sekarang hidup itu butuh duit, percuma elu sekolah rangking satu tapi ga ada kerjaan. Kalah sama sodara tiri lu tuh, ngacaaaa !!” hinaan demi hinaan dilontarkan ayahnya kepada Rea, membuat hatinya semakin remuk.

Rea bangkit dari posisi duduknya, lalu membuka pintu. Rea mengambil tas dan sepatu yang tadinya tergeletak begitu saja di lantai. Rea tidak perduli lagi dengan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya. Baginya, membanding – bandingkan Rea dengan saudara tirinya ditambah dengan hinaan dan makian adalah pisau paling pedih yang menusuk langsung ke dalam hatinya. Rea terbiasa menyimpan semua masalahnya sendirian, tapi kali ini kesabaran nya sudah sampai batas. Rea tidak perduli lagi atas apa yang akan terjadi pada dirinya nanti, yang penting baginya adalah keluar dari rumah ini. Rumah yang lebih pantas disebut neraka.

“keluar aja lu sana !! ga usah lu balik – balik lagi kesini, enak malah jatah makan gua ga berkurang ! kalo sampe lu pulang, gua hajar abis – abisan lu !!” ancam ayah Rea. Dilemparkannya sebuah asbak dari bahan gelas kearah Rea, yang langsung menghajar pelipis Rea dengan telak.

Asbak itu lalu jatuh ke rerumputan, yang kemudian disusul dengan darah segar yang menetes ke tanah. Pelipis Rea sobek, berakibat darah segar mengalir keluar dari lukanya. Tapi Rea tidak perduli. Dia hanya memegangi pelipisnya dengan tangan, berharap darahnya tidak keluar terlalu banyak. Rea hampir tidak merasakan sakit di pelipisnya. Sakit di dalam hatinya jauh lebih terasa daripada sakit yang mendera sekujur badan nya. Rea berjalan menjauhi rumahnya, berjalan menuju jalan aspal yang mengarah ke jalan raya.


***


10.12 PM

“Rea !” suara seseorang memanggil namanya dari jauh. Suara kakek – kakek lebih tepatnya.

Rea menoleh ke tempat asal suara itu, lalu mendapati seorang kakek – kakek berlari kecil menghampirinya yang sedang duduk di pinggir jalan. Rea mengenalinya. Dia adalah Ko Acay, pemilik toko kelontong di ujung jalan ini, persis tepat sebelum jalan raya. Saat jarang diantara Rea dan Ko acay sudah lebih dekat, Ko Acay spontan melihat ke arah pelipis Rea yang masih meneteskan darah segar.

“Rea ! elu kenapa lagi... ! buseeet, itu jidat lu kenapa ?! hayu sini kerumah Kokoh, mau kokoh obatin. Bisa infeksi ntar kalo didiemin gitu aja..” kata Ko Acay sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Rea diam saja. Dia tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan orang di depannya, juga ajakan nya untuk pergi kerumah Ko Acay. Rea tidak lagi perduli terhadap apapun. Pandangan matanya kini kosong, seakan tidak mempunyai harapan lagi.

“elu mau keras kepala lagi, Rea ? udah sini ikut kokoh. Masih ada kokoh yang perduli sama lu, hayu sini kita kerumah aja. Ga enak kalo di pinggir jalan Rea...” ujar Ko Acay membujuk Rea.

Rea menatap kearah Ko Acay, tapi sebenarnya dia sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk mengiyakan ajakan Ko Acay. Rea lalu bangkit dari duduknya, menghampiri tempat kakek itu berdiri. Ko Acay tersenyum, sambil menepuk pundak Rea. Berusaha menghibur bocah pemimpi yang sedang patah hati itu.


***


11.25 PM

“Rea, itu ada parasetamol.. elu minum ya entar, sekarang elu makan dulu.. nih ada sayap ayam kesukaan elu, khusus kokoh beli di depan tadi buat elu..” kata Ko Acay sambil menawarkan piring berisi dua potong sayap ayam, orek tempe, dan nasi yang masih mengepul hangat.

Rea hanya menatap piring yang tersaji di depannya. Lalu Rea meraba pelipisnya. Sekarang pelipisnya sudah dibalut dengan kapas dan perban yang sudah diberi antiseptik. Ko Acay yang melakukannya. Kakek itu mengobati Rea dengan telaten, membuat Rea merasa senyaman mungkin dirumahnya.

“ko, Rea makan dulu ya.” Ujarnya lemas. Rea menyendok sesuap nasi, lalu memasukkan nya kedalam mulutnya untuk dikunyah. Tapi pikiran Rea menerawang jauh. Jauh melewati berbagai macam memori menyakitkan yang dialaminya.

Rea, cowok berumur 17 tahun itu mendapat beasiswa mulai dari Sekolah Dasar sampai lulus Sekolah Menengah Atas di berbagai sekolah unggulan. Selama itu pula, cemo’ohan dan hinaan kerap mewarnai hari – harinya di sekolah. Anak miskin, orang gagal, kuper, dan ejekan lain setia menemani nya menjalani kewajiban belajar selama 9 tahun. Lalu ingatan nya berpindah, saat dia kerap dipukuli ayahnya hanya karena ayahnya malu kalau Rea kecil merengek ingin ikut saat saudara tirinya sedang bermain bersama teman - temannya. Berpindah lagi, saat ibu tirinya mengunci Rea kecil di dalam gudang yang gelap, yang membuatnya menjerit – jerit semalaman, karena di gudang itu tinggal hantu kepala tanpa badan yang jahat dan terus menerus mengganggu Rea. Atau saat Rea kecil dilempari batu oleh teman – temannya hanya karena bola matanya yang berwarna biru laut membuat iri mereka yang bola matanya berwarna hitam.

Kehidupan Rea berubah saat Rea mengenal breakdance dan skateboard. Rea mulai bisa melampiaskan sakit hatinya lewat tarian dan atraksi papan skate. Rea pun mencari tempat dimana komunitasnya sering berkumpul. Dan suatu hari, Rea nekat datang ke Taman Menteng. Tempat dimana begitu banyak komunitas yang menggunakan taman ini untuk berbagai macam hal, salah satunya breakdance. Rea dengan cepat dapat bergaul dengan mereka, dan leader mereka sendiri mengundang Rea untuk masuk komunitas. Rea menerima ajakan tersebut dengan senang hati. Dan dimulai saat itulah, hari – hari Rea menjadi lebih berwarna. Tidak lagi kelabu seperti dulu.

Rea mulai mengenal Vanya, anak modern dance yang terkesima melihat pertunjukkan breakdance Rea yang bisa menirukan berbagai macam dance move orang yang dia lihat. Saat Rea dan Vanya berpacaran, prestasi Rea makin meningkat. Yang tadinya di sekolah hanya mendapat peringkat 2 atau 3, kini selama SMA, 3 tahun Rea menduduki peringkat 1 berturut – turut. Selepas sekolah, Rea berusaha mengejar mimpinya menjadi dancer profesional dengan mengikuti berbagai perlombaan dan event yang ada. Namun, tidak semua berhasil. Kadang Rea harus takluk pada nasib untuk kalah.
Tapi Rea tidak pernah berhenti menyerah, tidak sampai hari ini. Beban nya terasa begitu berat ditanggung sendirian. Beban yang membuatnya sampai harus merangkak demi bisa terus bertahan hidup.

Lamunan nya membuyar, berganti menjadi kenyataan. Kenyataan bahwa di depan nya sekarang tersaji sepiring sayap ayam yang mulai dingin, dengan Ko Acay yang terus memandangi Rea. Mata Rea mulai berkaca – kaca. Sekuat mungkin ditahannya agar tangis itu tidak tumpah. Tapi Ko Acay menepuk pundak Rea, sekali lagi.

“ga apa – apa, kalo emang nangis bisa buat lu lega, maka lepasin aja. Ga ada salahnya laki – laki kalo nangis Rea... ga apa – apa...” kata Ko Acay meyakinkan Rea.

Dan air mata itu pun tak terbendung lagi. Rea menangis sejadi – jadinya di hadapan Ko Acay. Suaranya parau, meraung – raung menyayat hati. Ko Acay mengelus – elus rambut Rea, membuat air mata bocah itu makin tumpah mengalir deras dari pelupuk matanya yang biru.

Dalam tangisnya, Rea bersumpah. “i swear an oath, that one day everyone or even the World will acknowledge my existence !” janji Rea kepada dirinya sendiri.
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Thu 13 Dec 2012, 15:52

HELPING HAND OF A GOD



The Day before the Day One







01.22 AM




Udara dingin yang sedari tadi menusuk tulang mulai mengganggu Rea yang tidur di ruang tamu rumah Ko Acay. Berkali-kali Rea menarik selimut agar
badannya terlindungi dari udara yang begitu pekat menusuk tulangnya. Berkali-kali pula Rea membetulkan posisi tidurnya, membuat dirinya
senyaman mungkin untuk menikmati waktu tidurnya yang berharga. Sampai sebuah rangsangan di kulit Rea membuatnya terjaga dari tidurnya, rangsangan yang begitu dingin yang menyentuh kulit lengannya.

“aduh, siapa sih yang colek-colek gue jam segini? Hoaaamm…” Rea bersungut-sungut kesal sambil menguap panjang. Sejenak Rea memegang pelipisnya, masih merasakan sakit pada bagian itu.

Rea melihat sekelilingnya, namun tidak ada orang. Dan seperti biasa, udara dingin menusuk tulang itupun kembali lagi dengan hebatnya. Rea
yang sudah tak asing dengan perasaan seperti ini, lalu membuka kaca matanya. Samar-samar, terlihat bayangan seorang perempuan dengan wajah yang setengah remuk sedang berjongkok sambil menatap kearah Rea.

Rea mengucek-ucek matanya yang masih pegal karena habis menangis semalaman. Lalu Rea mulai mempertegas pandangannya, dan bayangan itupun makin memperjelas sosoknya. Wajah yang setengah hancur itu tidak mengurangi senyum tulus yang disunggingkan perempuan di depannya. Tangan perempuan itu mulai menggapai Rea, menggapai pelipisnya. Diusap-usapnya pelipis Rea yang telah diperban dan ada sedikit bercak darah yang
merembes dari perbannya. Usapan tangan yang dingin itu tidak menghilangkan kehangatan yang Rea rasakan. Hangat, seperti sentuhan seorang ibu.

“Lusi, ngapain kesini ? Lusi ikutin Rea dari tadi ya ?” tanya Rea kepada sosok di depannya, Lusi.

“iya… Lusi minta maaf… Lusi ga bisa bantu Rea… padahal… padahal… selama ini Rea selalu bantu Lusi… temenin Lusi main… Maaf Rea..” sosok di depan Rea mulai menitikkan air mata lewat sebelah matanya yang indah.

“engga apa-apa, Rea bisa lewatin ini semua kok. Rea kan kuat !” hibur Rea kepada Lusi, sahabat hantunya itu. Rea menyunggingkan senyum paling keren sedunia, meyakinkan Lusi bahwa semua akan baik-baik saja.

“Lusi percaya… Rea itu kuat ! makanya… Lusi kesini… sama temen-temen Lusi… buat… buat semangatin Rea, supaya… Rea bisa jadi… lebih kuat !” ujar Lusi, polos. Lalu Lusi menjentikkan jarinya, membuat semacam kode.

Dan tiba-tiba, dari arah jendela ruang tamu berbagai macam sosok halus bermunculan. Sosok-sosok dengan berbagai macam bentuk, yang dengan mudahnya menembus dinding dan kaca-kaca jendela. Sosok-sosok itu menghampiri Rea yang masih terduduk dengan tampang bengong yang melihat
nanar kearah mereka. Dan, jarak antara sosok-sosok itu dengan Rea makin dekat. Makin dekat. Sampai akhirnya Rea dapat melihat dengan jelas bentuk sempurna sosok-sosok itu.

“ah, itu ada Jono. Eh, ada Karen. Waaaw, si Supriadi juga ikutan ! Cool ! kalian repot-repot nih kesini buat jenguk gue ? aih, baiknyaaaa…” Rea merajuk manja pada sosok-sosok astral itu.

“Jono hadir nih Rea !” kata salah seorang diantara mereka, Jono sang pembalap dengan suaranya yang menggelegar dan keras.

“Karen… mau… jenguk… Rea…” ujar Karen, hantu yang penampilannya menyerupai perawat rumah sakit.

“boss, saya khawatir deh… pas si boss diputusin… sama pacarnya… kepikiran mulu nih, gimana… gimana perasaan si boss pas waktu itu…” Supriadi, si hantu dengan penampilan kernet metro itu ikut berkomentar.

Rea tertegun melihat mereka semua. Tanpa sadar Rea kembali menitikkan air mata dari pelupuk matanya yang biru itu. Bukan, ini bukan air mata
sedih. Bukan pula air mata kecewa, atau marah. Ini adalah ekspresi terharu Rea melihat kepedulian teman-teman hantunya. Rea tak habis
pikir, begitu kagum dengan mereka. Hantu-hantu yang sudah tidak punya wujud nyata ini masih menyimpan begitu besar kepedulian terhadapnya.

“Rea… kok malah nangis ? Kita… buat… salah ya… sama Rea… ?” tanya Lusi, mewakili teman-temannya.
“engga kok, engga… Rea.. Rea seneng banget ternyata masih ada yang perduli sama Rea… padahal.. padahal Rea begitu banyak dibenci orang,
tapi… tapi kalian mau bela-belain ketemu Rea… Rea… ga tahu harus bilang apa… Ga bisa diungkapin kata-kata…” jawab Rea terbata-bata, karena masih berusaha mengendalikan perasaan haru dan bahagianya.

Hantu-hantu itu pun tersenyum. Paras yang setengah hancur, tubuh yang kehilangan lengan, jari-jari yang membusuk dan membiru, ataupun
tulang-tulang rusuk yang mencuat keluar tidak menghilangkan makna ketulusan yang terpancar dari senyum mereka. Senyum yang begitu indah, begitu membuat hati Rea merasa nyaman dan tenang.

“oh iya, tadi Jono nemu ini di depan rumah Rea. Terus Jono ambil aja, soalnya Jono pikir Rea kan sekarang dirumah Ko Acay, jadi sekalian Jono sampein langsung aja sama Rea” kata Jono sambil menyerahkan secarik amplop hitam dengan segel merah darah.

Rea melihat amplop itu dengan seksama. Raut wajahnya menyiratkan tanda tanya besar. Rea menebak-nebak, siapa yang mengiriminya surat. Apalagi di zaman modern seperti sekarang, sudah teramat jarang bagi orang-orang untuk berkomunikasi lewat surat. Meskipun begitu, Rea tetap menerima surat itu.

“ini dari siapa ya ? ga ada namanya, ga ada alamat pengirim. Misterius banget sih.” Kata Rea, yang langsung dijawab dengan anggukan oleh keempat teman hantunya.

Rea menyobek segel merah itu, lalu mulai membuka amplopnya. Ternyata isinya adalah secarik kertas usang yang sedikit terdapat bekas sobekan di sisinya. Lalu Rea mulai membaca isi surat misterius itu dengan serius. Tidak sampai 3 menit, Rea mengernyitkan dahinya. Hal ini menimbulkan rasa heran pada teman-teman hantunya, terutama Jono yang sedari tadi terlihat paling antusias dan penasaran.

“mana, coba sini Jono liat dong !” pinta Jono kepada Rea.

“nih !” dengan entengnya Rea menyerahkan secarik kertas itu kepada Jono.

Lalu Jono mulai membaca surat tersebut. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra. Hal ini mendatangkan protes dari tiga hantu yang lain.

“baca… yang… keras dong… biar semuanya… tahu…” omel Lusi, memasang tampang galak. namun gagal total.
“oke, oke ! nih, Jono bacain ya !” Jono mulai membaca surat itu dengan suara nyaring.

Liebe Rea,

Do you remember me ? I am Loki, the guy you met yesterday.

ehrlich, seit dem ersten Mal trafen wir uns, ziehen Sie Ihre schönen blauen Augen meine Aufmerksamkeit. It’s a rare thing that someone could
attract me this bad. Oh yeah, I could not sleep every time I imagine those Ocean-Blue eyes of yours. Would you mind to let me see those eyes ,once again ?
If you agree, then you may come to my mansion for a dinner. I repeat, it’s a D-I-N-N-E-R !

As a compensation of let me see those beautiful eyes, I would like to offer you a chance. It’s a ticket that will change your world, a whole world !! Nicht, dass ist dein Wunsch ?

I hope you could come to visit my mansion, so we could meet and talk more personally. Ah, I insert the map to my mansion on the back of this letter. If you could come, please don’t be very late or something terrible would happen.

Ein- zwei- drei !! und Loki verschwunden...


Mit freundlichen Grüßen,


Loki




Rea menimbang-nimbang tawaran yang tertera pada isi surat tersebut. Otaknya berpikir keras, namun sepertinya menemui jalan buntu. Maka Rea menaruh surat itu begitu saja diatas meja. Lalu Rea menyalakan tv, sambil mengajak teman-teman hantunya untuk ikut menonton bersama acara dini hari yang kurang begitu bagus.

Rea tidak tahu, bahwa pada akhirnya keadaanlah yang memaksnya untuk tunduk pada takdirnya.
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Sun 16 Dec 2012, 00:26

HERO IN THE MORNING


The Day before the "Day One"








07.12 AM

“selamat pagi saudara-saudara sekalian ! maaf membangunkan anda semua sepagi ini, tapi perlu diketahui bahwa hari ini adalah batas hari terakhir untuk mengemasi barang-barang kalian ! Tidak ada lagi kompensasi ! segera pergi dari wilayah ini, atau kami akan mengambil tindakan kasar !” teriak seseorang diluar sana, lebih tepatnya di lapangan, lewat megaphone TOA-nya yang nyaring.

Akibat suara bising itu, orang-orang yang tadinya masih menutup rapat pintu rumah beranjak keluar dengan raut muka yang menunjukkan mimik marah. Diantara mereka bahkan ada yang membawa-bawa golok, parang, linggis, pedang katana, dan stick baseball. Geraman dan sahutan mencaci kini terdengar menghiasi suasana kampung Mampang.

Suasana kampung Mampang pada pagi itu benar-benar kacau. Orang yang tadi berteriak-teriak lewat megaphone nya sekarang beringsut ke belakang
barisan para Satpol PP dan Polisi yang siaga lengkap dengan tameng, kevlar, dan juga tonfa nya. Diantara para petugas itu, terlihat beberapa
yang membawa senjata api. Jauh dibelakang barisan-barisan itu, berdiri dengan gagahnya mesin-mesin traktor lengkap beserta para pekerjanya. Tampang mereka semua sama, menatap ke depan dengan mimik muka sangar.

Sementara di seberang mereka, sekarang berkumpul warga dengan segala atribut perang dadakannya. Terlihat diantara mereka masih ada yang memakai sarung ataupun kolor dan kaus kutang seadanya. Tapi perbedaan yang begitu jauh ini tidak menyurutkan niat mereka untuk mempertahankan kampung tempat mereka lahir. Kedua kubu saling bertatapan, saling diam menunggu salah satu diantara kubu itu yang lebih dulu bergerak. Suasana menjadi tegang.

Rea melihat mereka semua lewat jendela, dari dalam rumah Ko Acay. Rea begitu sedih, begitu marah sampai giginya saling beradu dan menimbulkan bunyi gemelutuk. Tangannya mengepal, dengan urat-urat tangan yang kini mencuat nampak karena saking tegangnya. Rea tidak habis pikir, kenapa sesama manusia ini saling mengganggu, saling memusuhi manusia lainnya? Apa memang seperti ini cara manusia untuk bertahan hidup, menggusur hak manusia lain demi harta dan juga kepuasan pribadi.

“Rea, lu disini aja ya. Kokoh mau keluar dulu, mau liat keadaan sekitar. Semoga hari ini masih bisa negosiasi, kayak hari-hari yang sebelumnya.”
Kata Ko Acay sambil menyerahkan antibiotik dan juga segelas air untuk Rea minum.

"Rea mau ikut Ko, Rea mau ikut pertahanin kampung ini bareng sama warga yang lain !” protes Rea kepada Ko Acay.

“engga bisa Rea, elu masih kecil.. baek-baek disini, Kokoh mau keluar dulu..” Ko Acay memberi pengertian kepada Rea, sambil menepuk-nepuk
kepala Rea.

Ko Acay membuka pintu. Lalu kakek tua itu berjalan tergopoh-gopoh menuju kerumunan warga yang sedari tadi berjaga di depan gardu, menghalangi
para developer untuk merampas kampung mereka. Terlihat Ko Acay bersusah payah menembus kerumunan warga, lalu menghilang dari pandangan Rea. Dan tidak lama kemudian, suara letusan senjata api menjadi pemicu kerusuhan. Warga beringsek maju menuju kearah para petugas yang juga bersiap untuk memulai serangan balasan. Dan kerusuhan pun tak dapat dielakkan.

“Ya Tuhan, Ko Acay ada disitu !! Kokoh !!!” Rea berteriak panik. Spontan Rea langsung membuka pintu rumah, dan berlari menuju kearah kerusuhan
itu. Mata biru nya mencari-cari sosok Ko Acay, berusaha menemukan sosok itu. Namun sejauh mata memandang, yang Rea lihat hanyalah orang-orang yang saling pukul, saling tendang dan saling mengayunkan senjata masing-masing. Debu yang menutupi tanah lapangan, menghempas keluar
mengaburkan pandangan Rea.

Rea terus mencari lebih seksama, sambil terus memanggil-manggil nama Ko Acay. Namun percuma. Tidak ada yang membalas sahutannya. Tidak ada yang
merespon Rea. Dari arah belakang, sebuah tonfa mengayun kencang menuju kepala Rea. Rea yang tiba-tiba menyadari hal tersebut, menangkis tonfa
dengan lengannya. Tonfa itupun beradu dengan kulit Rea, meninggalkan bekas merah yang dengan cepat berubah menjadi biru di lengannya.

Rea melihat kearah orang yang sekarang hendak mengayunkan kembali tonfa nya kearah Rea. Namun kecepatan mata Rea tidak dibarengi dengan kecepatan refleks tubuhnya. Ayunan tonfa dengan sukses mendarat di bahu Rea, membuatnya berteriak kesakitan. Badannya menghempas tanah dengan
keras. Di belakang Rea, sebuah stick baseball menyusul mengayun kencang kearah muka orang yang sudah memukul Rea. Dan ayunan stick baseball itu
tepat menghajar muka orang itu, membuatnya terhempas beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“ah, makasih bang!” kata Rea spontan.
“elu ngapain ikut-ikutan! Udah sana dibelakang aja !” kata orang yang menolong Rea.
“saya lagi cari Ko Acay, bang ! abang liat ga Ko Acay dimana ?” tanya Rea dengan tampang panik.

Belum sempat orang itu menjawab, sebuah peluru karet menghujam punggungnya. Membuat badannya terdorong ke depan lalu kemudian
tersungkur sambil mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Orang yang menolong Rea sekarang jatuh tepat di depannya, tidak lagi sadarkan diri.
Rea spontan berguling-guling menghindari rentetan peluru karet yang kini mulai mengarah kepadanya. Peluru-peluru itu menghujam tanah, kemudian memantul ringan di udara sebelum jatuh kembali ke tanah.

Rea menarik lengan seorang satpol PP, membuat badannya condong kearah Rea. Lalu Rea bersembunyi dibalik badan sang satpol PP, dan badan petugas itupun menjadi target hujaman peluru karet yang seharusnya mengarah ke Rea. Rea berlari sekencang-kencangnya, berlari kearah kerumunan para petugas yang dengan beringas sedang memukuli seseorang. Matanya cepat menangkap sosok orang yang sedang dipukuli itu. Rea marah, refleks melompat tinggi menerjang salah seorang diantara mereka. Lalu sebuah tendangan disarangkan Rea ke kepala salah seorang petugas itu,
dan membuat targetnya menjadi terhuyung-huyung sebelum ambruk ke tanah.

“STOP !! ITU KAKEK GUEEE !!!” teriak Rea kearah kerumunan para petugas itu. Rea menerjang, memasang badan memeluk sosok di depan nya yang telungkup sambil memegangi kepalanya. Rea melindungi sosok itu, dan pukulan demi pukulan tonfa kini bersarang sangar di punggungnya, kepalanya, lengan, pinggang, serta hampir seluruh bagian tubuh belakangnya. Rea tidak perduli dengan semua rasa sakitnya, dan terus bertahan melindungi sosok kakek yang sedang dipeluknya.

“AAAAARRGHHH !!!” Rea mulai tidak tahan dengan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan kepadanya. Rea bangkit, menangkis beberapa serangan tonfa sambil mengayunkan tinju membalas serangan mereka. Beberapa tinju Rea telak menghantam pipi beberapa diantara mereka. Membuat mereka terdorong ke belakang. Sorot mata Rea tajam, mengancam orang-orang di hadapannya. Orang-orang itu lalu menghentikan serangan mereka, melihat kearah Rea yang sedang menatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan. Tatapan yang berasal dari mata biru lautnya, yang memancarkan murka yang begitu hebatnya. Sejenak nyali orang-orang itu menciut, terus menciut sampai senjata yang mereka pegang jatuh ke tanah.

“BEGO !! ITU KAKEK-KAKEK, WOY !! GILA LO SEMUA, KAKEK-KAKEK LO PUKULIN JUGA ?! OTAK LO KEMANA, BANGSAT ?!” bentak Rea kepada orang-orang itu.

Tapi mereka hanya diam, mematung sambil pandangannya menatap kebawah, menghindari tatapan Rea.

“Ko, masih bisa berdiri ?” tanya Rea kepada Ko Acay, orang yang tadi dipukuli para petugas itu.

“masih, elu ngapain... kesini... kan ikut kena... hajar juga... jadinya...” kata Ko Acay terbata-bata. Darah menetes dari mulutnya yang bengkak. Begitupun darah yang keluar dari kepalanya yang bocor.

“ini bukan apa-apa Ko, Rea masih bisa tahan sakitnya.. Ayo, Rea bopong ke tempat yang aman” ajak Rea sambil memanggul badan Ko Acay. Ko Acay membantu Rea dengan berusaha berdiri, lalu lengannya memeluk bahu Rea erat.

“MINGGIR !!” Rea kembali membentak orang-orang di hadapannya. Entah kenapa, tatapan mata biru Rea membuat nyali mereka menjadi ciut.

Rea merebahkan tubuh tua Ko Acay di sebuah dipan panjang di sudut lapangan. Rea menatap Ko Acay dalam-dalam, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya berjalan menuju kerumunan yang masih tetap rusuh. Ko Acay menatap tubuh belakang Rea, mengagumi betapa kuat tubuh kurus itu.

Rea mengambil sebuah megaphone yang tergeletak begitu saja di salah satu sisi lapangan. Suara bising pun terdengar, membuat ngilu telinga. Rea menempatkan bibirnya di ujung megaphone, lalu berteriak lantang.

“SAYA MOHON TOLONG BERHENTI !! KERUSUHAN INI TIDAK ADA GUNA NYA !! TOLONG, HENTIKAN TINDAKAN ANARKIS KALIAN !! BANYAK ANAK KECIL DAN
PEREMPUAN YANG AKAN MENJADI KORBAN JIKA KALIAN TERUS MELANJUTKAN KERIBUTAN INI !! SAYA MOHON SEKALI LAGI, TOLONG HENTIKAN KERUSUHAN INI!!” seru Rea lewat megaphone.

Namun tidak ada yang menggubris seruan Rea. Orang-orang masih tetap saling pukul dan tendang. Saling menyabetkan senjata mereka, membuat lapangan yang beralaskan tanah merah kini makin merah karena darah yang tumpah menyirami tanah. Tubuh-tubuh yang sedikit demi sedikit tumbang ke
tanah, teriakan teriakan caci maki dan umpatan-umpatan kasar menjadi pelengkap pemandangan di depan Rea. Rea menghela nafas, lalu kembali berteriak.

“SAYA MAU BERTEMU DENGAN ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS SEMUA INI !! SAYA INGIN BUKTI BAHWA TANAH YANG KAMI TEMPATI INI ADALAH BENAR MILIK ANDA !! JIKA TIDAK TERBUKTI, MAKA SAYA AKAN BAWA MASALAH INI KE JALUR HUKUM !!” seru Rea kembali.

Dan dari seberang sana terdengar suara yang sama lantangnya. Suara yang berasal dari orang yang tadi berteriak lebih dahulu kepada warga.

“HENTIKAN SEMUA KEKACAUAN INI SEKARANG !! SAYA ULANGI, KEPADA PARA PETUGAS UNTUK MUNDUR DAN BERHENTI MELAKUKAN TINDAKAN KASAR !!” balas orang yang berada jauh di seberang Rea lewat megaphone nya.

Perlahan-lahan, kekacauan mereda. Para petugas kini memilih untuk mengambil tindakan defensif dengan melindungi diri mereka dengan tameng yang mereka jinjing. Sementara para warga mulai menghentikan amukan mereka, lalu mundur ke belakang kembali membuat barisan. Diantara warga ada yang membopong tubuh-tubuh warga lainnya yang sudah lebih dahulu tumbang.

“ANDA !! YA, ANDA YANG TADI BERTERIAK LANCANG !! SAYA MINTA KEPADA ANDA UNTUK MEMPERTANGGUNG JAWABKAN OMONGAN ANDA !! SAYA AKAN MENUNJUKKAN BEBERAPA BUKTI, MAKA DARI ITU SAYA MINTA KEPADA ANDA UNTUK MENDEKAT !!” lanjut orang itu.

Rea membuang megaphone nya ke tanah, lalu berjalan kearah orang itu berada. Tatapan matanya masih tajam mengancam, menusuk nyali orang yang ditatapnya. Saat jarak semakin dekat, Rea bisa melihat sosok yang begitu angkuh di depannya. Terlihat di hadapan Rea, seorang pria paruh baya
dengan uban yang mulai menggantikan rambut-rambut hitamnya. Pria itu memakai setelan jas hitam lengkap dengan dasi merahnya dan sepatu formal
hitam yang mengkilat. Pandangan matanya menatap rendah kepada Rea, yang dibalas dengan pandangan mata mengancam oleh Rea.

“ternyata orang yang berani berbicara kepada saya adalah seorang bocah, ha.. ha.. ha..” kata orang itu sambil tertawa. Tawa khas bapak-bapak.

“Saya Rea, dan saya meminta bapak untuk menunjukkan bukti-bukti bahwa benar tanah ini milik bapak.” Kata Rea, lantang.

“anda tidak tahu siapa saya ? ha.. ha.. ha.. menyedihkan ! orang-orang kampung ini begitu menyedihkan ! hei, kacung ! kemari !” teriak bapak itu kepada salah satu pegawainya.

“i... iya.. pak..” kata si pegawai terbata-bata.

“kamu tahu siapa saya ?” tanya bapak itu kepada pegawainya.

“Ardi Hartawan, pengusaha sukses yang memegang banyak perusahaan bonafit skala Multinasional. Pengusaha yang mengendalikan sebagian besar saham berbagai perusahaan di Indonesia, dan orang yang namanya sedang diperhitungkan dalam dunia bisnis Nasional. Siapa yang tidak kenal seorang bapak Ardi Hartawan ?” jawab si pegawai dengan nada menjilat.

PLAK ! sebuah tamparan sukses mendarat di pipi si pegawai. Dan dari tampang Ardi Hartawan tersungging senyum puas yang mengejek.

“Dia tidak kenal siapa saya. Bukankah itu artinya ada orang yang tidak kenal seorang Ardi Hartawan?” tanya mengejek Ardi Hartawan kepada pegawainya. Pegawainya hanya diam, tidak berani berbicara sepatah katapun.

“saya tidak perduli sama sekali tentang siapa bapak, saya juga tidak mau berbasa-basi lebih lama. Saya ingin bapak menunjukkan beberapa bukti bahwa memang benar ini adalah tanah bapak.” Rea mulai menunjukkan tampang bencinya. Baginya, seseorang yang begitu superior tapi didapat lewat jalan menginjak-injak orang lain hanya setara dengan sampah.

Lalu Ardi Hartawan berbalik ke belakang, mengambil beberapa berkas yang dipegang salah satu pegawainya. Diambilnya berkas-berkas itu, lalu
dilemparkan nya kearah Rea. Beberapa dari berkas itu jatuh ke tanah, membuat Rea terpaksa memungutinya.

“Baca, orang pinggiran !” hina Ardi Hartawan.

Rea menyerahkan berkas-berkas itu kepada orang yang dianggap penting di kampung Rea. Orang yang diserahi berkas, membaca dengan seksama lembar
demi lembar kertas putih itu. Setelah waktu yang cukup lama, berkas itu kembali diserahkan kepada Rea. Rea pun bertanya tentang keaslian berkas itu.

“memang ada beberapa yang janggal, tapi semua nya asli. Rea, berkas-berkas ini memang asli, dan pak Ardi memang pemegang penuh atas tanah yang kita huni ini...” kata orang itu dengan nada lemas.

“bagaimana ? sudah puas sekarang ? bisa saya mulai menggusur kampung kumuh ini ? ha.. ha.. ha..” Ardi Hartawan tertawa dengan tawa yang begitu memuakkan pendengarnya.

Rea berpikir, otaknya sibuk mencari jalan keluar. Namun, berbagai macam cara yang dipikirkannya menemui jalan buntu. Bagaimanapun, Rea hanya orang kecil dibandingkan dengan orang yang ada di depannya.

Sejenak terlintas isi surat yang Rea baca dini hari tadi di ruang tamu. Rea mengingat dengan jelas salah satu isinya yang bilang, “i would give
you a chance to change your world”. Rea berpikir dengan keras, hanya dengan mengunjungi mansion Om Loki bisa membuatnya mendapat kesempatan
untuk merubah hidupnya. Mungkin jika Rea datang ke tempat Loki, Rea bisa meminta bantuannya untuk menyelesaikan masalah ini. Rea sadar ini
adalah sebuah pertaruhan, namun hati kecil Rea meyakinkan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar.

“berikan saya waktu satu minggu, dan saya akan mencari jalan keluar untuk masalah ini. Saya berjanji, satu minggu dari sekarang saya akan kembali lagi menemui bapak sambil membawa pemecahan untuk masalah sengketa tanah ini.” Kata Rea tegas. Tatapan matanya tajam menatap mata sang Pengusaha tiran, meyakinkan sang pengusaha untuk mempercayai kata-katanya.

Ardi Hartawan menggeleng-gelengkan kepalanya, heran dengan pemuda di depannya. Bagaimana mungkin seorang pemuda biasa seperti dia bisa bicara begitu lantang di hadapan seorang Ardi tanpa ada rasa takut atau segan. Dan tatapan mata biru pemuda itu, mata biru yang mencoba meyakinkan nya bahwa pemuda itu akan membuktikan apa yang dikatakannya.

“apa jaminan nya ?” tanya singkat sang pengusaha.

“jika gagal, saya akan bekerja seumur hidup saya tanpa gaji kepada bapak.” Jawab Rea singkat.

Ardi menimbang-nimbang tawaran Rea. Ingin sekali logikanya untuk menolak mentah-mentah tawaran Rea, tapi hati kecilnya seolah berbisik untuk menerima tawaran itu. Ardi menatap mata biru Rea, menatap mata itu dalam-dalam. Sorot mata itu ingin membantu hati kecilnya meyakinkan Ardi agar menerima tawaran Rea. “Ardi Hartawan, mungkin anda akan menyesali keputusan yang akan anda ambil seumur hidup anda.” Katanya dalam hati.

“Baiklah ! Batas waktunya satu minggu. Saya tidak pernah bertemu pemuda yang begitu berani, begitu lancang melawan saya. Berdiri berhadap-hadapan dengan saya tanpa rasa gentar sedikitpun. Kamu punya sesuatu yang tidak dipunyai orang lain, dan itu yang membuat orang lain tertarik kepadamu. Rea, saya akan mengingat-ingat nama itu.” Kata Ardi Hartawan, memberi pertanda bahwa dia mengizinkan penangguhan penggusuran dan menerima tawaran Rea.

“terima kasih.” kata Rea singkat.

Rea berbalik ke belakang lalu berjalan kearah Ko Acay. Para warga tidak henti-henti menatap Rea, menunjukkan raut wajah kagum yang tiada habisnya. Saat Rea berjalan melewati para warga yang berbaris, para warga serentak minggir dan membukakan jalan untuk Rea. Rea menganggukkan kepala, lalu meneruskan berjalan menuju dipan. Dibopongnya tubuh tua Ko Acay menuju rumahnya.

Dan rasa kagum warga itupun memuncak, pecah menjadi tepuk tangan riuh membahana disertai siulan dan decak kagum. Diantara mereka bahkan ada yang meneriakkan nama Rea berulang-ulang dengan lantangnya. Mereka mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Rea, pahlawan kampung Mampang pagi itu. Namun sang pahlawan tidak terlena dengan euforia, meneruskan langkahnya membuka pintu rumah orang tua yang sudah dianggap seperti kakeknya sendiri.

Pagi itu, adalah awal dari takdir yang akan membawa Rea pada titik akhir pencarian jati dirinya. juga impian dan harapannya.
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by siganteng_rusuh on Sun 16 Dec 2012, 01:52

komen ah... biar ramean dikit.
avatar
siganteng_rusuh
Pa'e Genduk Laras

Jumlah posting : 27
Reputation : 4
Join date : 12.12.12
Lokasi : Zimbabwe

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by andreeejf on Mon 24 Dec 2012, 22:15

udah lama ga buka yourocks, eh di komen sama om panjoel Very Happy
om ganteng, colek dikit ah :p
avatar
andreeejf
Newbie

Jumlah posting : 8
Reputation : 0
Join date : 11.12.12

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by siganteng_rusuh on Wed 09 Jan 2013, 11:11

ayo di lanjut mas bro.... banzai
avatar
siganteng_rusuh
Pa'e Genduk Laras

Jumlah posting : 27
Reputation : 4
Join date : 12.12.12
Lokasi : Zimbabwe

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by Admin on Thu 10 Jan 2013, 14:08

apdeeet suhuuuuu haha

ceritanya mantabbbbb baca

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
- A Thousand Pieces Of Paper -
where our dream getting started
avatar
Admin
Admin
Admin

Jumlah posting : 69
Reputation : 0
Join date : 11.12.12
Lokasi : S h i 1 3 u y a

http://urself.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by XiaoHenPen on Tue 15 Jan 2013, 06:48

kenapa nggak diupdate2 fiuh

XiaoHenPen
Newbie

Jumlah posting : 9
Reputation : 0
Join date : 13.01.13

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by ry4n on Tue 15 Jan 2013, 18:33

suhu andre kemana ya bingung udah lama gk nongol2 banzai
avatar
ry4n
Recruit
Recruit

Jumlah posting : 26
Reputation : 0
Join date : 20.12.12
Lokasi : Coba cek di globe

Kembali Ke Atas Go down

Re: 7 DAYS by andreeejf

Post by Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik